oleh

Kemunculan Kekebalan Seluler Pasien Covid-19 Setelah 6 Bulan

SMJTimes.com – Hasil studi baru menunjukkan kemunculan kekebalan seluler pada Covid-19 setelah 6 bulan lamanya pasien melakukan perawatan. Klaim ini menunjukkan bahwa, pasien terjangkit korona memiliki beberapa tingkat perlindungan saat terinfeksi.

Melansir dari Kompas.com, Rabu (4/11/2020) penelitian tersebut dilakukan oleh ilmuwan terhadap 100 pasien Covid-19 yang tidak melakukan perawatan di rumah sakit.

Baca juga: Burung Berkelamin Ganda Ditemukan di Hutan Amerika

Beberapa ilmuwan mempresentasikan penelitian kecil yang dilakukan mereka di Inggris terhadap pasien Covid-19 yang tidak dirawat di rumah sakit.

Dengan meyakinkan, mereka mengatakan tidak berarti orang dapat terinfeksi penyakit yang kini menjadi wabah lebih dari sekali.

Temuan ini seakan menyangkal penelitian sebelumnya, yang menunjukkan kemungkinan infeksi ulang Covid-19 dapat terjadi sebab antibodi yang cepat menghilang.

Baca juga: Misterius, Penampakan Gumpalan Merah Besar Muncul di Laut Washington

“Meskipun temuan kami membuat kami sangat optimis tentang kekuatan dan lamanya kekebalan yang dihasilkan setelah infeksi SARS-CoV-2, ini hanyalah satu bagian dari teka-teki,” kata Paul Moss, profesor hematologi di Birmingham University Inggris yang memimpin studi.

Kendati demikian, kata dia, masih banyak yang harus dipelajari sebelum kita memiliki pemahaman penuh tentang cara kerja kekebalan tubuh terhadap Covid-19.

Dari studi itu, temuan sementara mengungkapkan antibodi pasien mengalami penurunan beberapa tingkat. Respons sel T yakni sel kekebalan tubuh tetap kuat.

Baca juga: Upaya Mitigasi Merespons Prediksi Tsunami 20 Meter di Selatan Pulau Jawa

“Hasil awal (kami) menunjukkan respons sel T dapat bertahan lebih lama dari respons antibodi awal,” kata Shamez Ladhani, konsultan ahli epidemiologi di Public Health England yang ikut memimpin studi.

Studi ini juga menemukan ukuran respons sel T berbeda, dan jauh lebih tinggi pada orang yang memiliki gejala Covid-19 dibandingkan mereka yang tidak memiliki gejala saat terinfeksi. Ada dua hal yang dapat diartikan dari temuan tersebut, pertama, kemungkinan kekebalan seluler yang lebih tinggi dapat memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap infeksi ulang pada orang yang memiliki gejala Covid-19.

Atau, pasien tanpa gejala lebih mampu melawan virus SARS-CoV-2 tanpa perlu menghasilkan respons imun yang lebih besar.

Baca juga: Kematian Covid-19 10 Ribu Jiwa, Pakar Menduga Seluruhnya Bisa 3 Kali Lipat

“Hasil studi ini memberi kepastian, meski titer antibodi terhadap virus SARS-CoV-2 dapat turun pada tingkat yang dapat dideteksi dalam beberapa bulan setelah infeksi, namun tingkat kekebalan terhadap virus dapat dipertahankan,” imbuh Charles Bangham, ketua imunologi di Imperial College London.

Eleanor Riley, profesor imunologi dan penyakit menular di Edinburg University menambahkan studi ini menjadi pertanda baik untuk jangka panjang. Baik dalam hal pengembangan vaksin maupun kemungkinan perlindungan jangka panjang terhadap infeksi ulang. Sayangnya, belum diketahui apakah orang yang diteliti ini terlindung dari infeksi ulang Covid-19.

Baca juga: 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *