oleh

Hebat, Mahasiswa Semarang Ciptakan Alat Deteksi Orang Tak Bermasker

Semarang, SMJTimes.com – Guna memutus penyebaran virus Corona, pemerintah mewajibkan seluruh masyarakat Indonesia menggunakan masker saat menjalankan aktivitas, utamanya di luar rumah. Berbagai upaya pun dilakukan agar masyarakat mematuhi kebijakan tersebut, mulai dari imbauan, sanksi, hingga denda administrasi.

Meski begitu, masih banyak orang yang enggan mengenakan masker di masa pandemi sekarang ini. Mengatasi hal itu, Fakultas Teknoik Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang mengembangkan alat deteksi suhu sekaligus mendeteksi orang yang tak memakai masker. Alat tersebut akan berbunyi saat ada orang tak bermasker lewat didepannya.

Baca juga: Jajal Fitur Birdwatch, Twitter Bisa Deteksi Kabar Hoaks

Alat dirancang oleh Program Studi S-1 Teknik Elektro dan dibuat oleh mahasiswa dan alumni Program Studi Teknik Elektro dengan bimbingan tenaga pengajar Helmy Rahadian. Alat tersebut berupa thermal camera dengan resolusi 8×8 sensorik.

Alat akan berbunyi jika orang yang dipindai memiki suhu tubuh 37 derajat celcius atau sesuai dengan pengaturan. Alat juga akan berbunyi pada orang yang tidak menggunakan masker.

Baca juga: Indonesia Dihujani Sederet Fenomena Langit Oktober Ini, Bisa Disaksikan Mata Telanjang

“Untuk suhunya bisa diatur, nah kalau tidak pakai maskerakan bunyi,” kata Tim Pengembangan alat pendeteksi suhu dan masker berbasis jaringan tiruan, Helmy Rahardian di kampus Udinus, Semarang.

Uniknya, tak sekadar memiliki kemampuan deteksi masker, alat tersebut juga bisa diatur sesuai keinginan misalnya pendeteksi identitas saat digunakan di lingkungan kampus.

“Bisa custom, misal di Udinus bisa ter-record siapa-siapa saja di gedung ini misal si A tidak pakai masker, suhu tiggi, untuk pelacakan,” jelasnya.

Baca juga: Waspada Modus Penipuan Shopee Pay, Jangan Bocorkan Kode OTP

Selain itu, Ketua Program Studi Teknik Elektro Udinus, M Ary Heryanto mengatakan untuk harga jauh dari yang ada di pasaran yang sampai puluhan juta. Untuk alat dari Udinus tersebut jika dipasarkan memiliki harga sekitar Rp 7 juta-8 juta.

“Ini di luar monitor Rp 7-8 jutaan, kita pakai PC yang kecil,” kata Ary.

Saat ini alat tersebut digunakan di internal kampus Udinus, namun jika ada yang memesan maka bisa diproduksi. Untuk monitor, pembeli bisa menyiapkan sendiri, bahkan menggunakan laptop pun bisa. Alat tersebut masih terus dikembangkan agar bisa mencakup lebih banyak orang saat mendeteksi.

“Kami siap kalau ada instansi atau manapun yang memerlukan. Ini sudah 98 persen siap produksi,” tandasnya.

Baca juga: 

Artikel ini telah tayang di detikINET dengan judul “Mahasiswa di Semarang Bikin Alat Deteksi Orang Tanpa Masker

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *