SMJTimes.com – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berhasil memunculkan sejumlah krisis baru secara bersamaan, salah satu di antaranya adalah kelangkaan chip memori global yang selama ini mendongkrak harga jual perangkat elektronik konsumen seperti HP.
Namun selain perangkat elektronik, teknologi AI juga mulai memunculkan dampaknya pada krisis listrik yang tengah kencang terjadi di sejumlah wilayah padat infrastruktur data center AI berskala besar seperti di Sugarcreek, Ohio, Amerika Serikat (AS).
Melansir dari CNBC Indonesia, wilayah yang sering dikenal sebagai ‘Swiss Kecil Ohio’ itu diketahui menjadi salah satu daerah dengan lonjakan tarif listrik akibat tingginya permintaan listrik bagi kebutuhan data center AI.
Bahkan, sebuah pabrik bata swasta berusia 141 tahun berskala terbesar di AS yang bernama Belden Brick Company mengaku mengalami pembengkakan tarif listriknya hingga sebesar 90% sepanjang tahun lalu.
Dalam hal ini, Belden Brick telah menjadi salah satu contoh dari sejumlah pabrik lainnya di AS yang mengalami lonjakan tarif listrik akibat masifnya pertumbuhan data center AS, di mana yang sebelumnya 1.600 dolar AS atau setara Rp28 juta menjadi 12.000 dolar AS atau Rp216 jutaan.
Adanya fenomena tersebut, sejumlah pemerintah federal, negara bagian, hingga daerah telah mendapatkan banyaknya keluhan masyarakat terkait tarif listrik, hingga memunculkan kekhawatiran terkait stabilitas jaringan.
Oleh sebab itu, pemerintah merespons sejumlah keluhan tersebut dengan melakukan desakan terhadap perusahaan teknologi raksasa untuk dapat membayar lebih setiap kebutuhan listrik yang mereka perkirakan. (*)









Komentar