oleh

Banyak Siswa Tak Punya Ponsel, Guru Pilih Datangi Murid yang Terkendala

Rembang, Smjtimes.com – Kasus Dimas, salah satu siswa yang tidak memiliki ponsel dan belajar di sekolahan sendirian menjadi trending dalam beberapa hari di Rembang. Ada sekitar 20 lebih portal pemberitaan online yang mengangkat dan menyebarkan informasi tersebut ke khalayak ramai.

Menariknya setelah pemberitaan tersebut banyak bantuan yang mengalir dari beberapa institusi secara beruntun. Mulai dari pihak pemkab hingga brand ponsel pintar terkenal di Indonesia.

Namun, Dimas tidak sendirian dan satu-satunya. Beberapa kasus tersebut juga tersebar di berbagai daerah di Rembang. Data ini dapat diketahui saat melakukan penelusuran secara acak ke beberapa sekolah di daerah Rembang .

Misalnya Harjianto, Kepala sekolah SMPN 2 Lasem mengatakan bahwa secara umum para murid mempunyai kendala terkait kepemilikan ponsel.

“Kendala secara umum memang tidak semua orang memiliki hp.  Dan yang kedua tidak semua orang tua mampu membeli ponsel. Jadi pembelajaran daring kami menyesuaikan situasi tidak harus punya hp. ” tuturnya pada Selasa (28/7/2020).

Baca juga: MA Salafiyah Ahmad Said Kudus Mantap dengan Pembelajaran Daring

Namun saat ini memang pihaknya belum bisa menyebutkan secara angka siswa yang tidak punya ponsel pintar.

“Secara angka, datanya belum ada. Tapi secara umum ada.  Karena kami menerima siswa, tidak memandang siswa yang tidak punya duit apa tidak. Tapi yang terpenting anak bisa sekolah.”

Secara teknis dalam menghadapi situasi seperti itu, Harjianto dan beberapa guru memilih untuk mendatangi beberapa siswa yang terkendala.

Kendala serupa juga disampaikan oleh Dahlan Slamet kepala sekolah SMPN 1 Kragan yang mengatakan ada sejumlah siswa tidak memiliki ponsel.

“Dari 856 siswa yang tercatat punya hp, 850. Yang 6 siswa tidak punya. Selama 2 minggu pembelajaran anak yang aktif pembelajaran 80-85%,” jelasnya.

Baca juga: Mayoritas Pelajar di Kabupaten Pati Menilai KBM Daring Tidak Efektif

Angka ini juga dipengarui oleh latar belakang  orang tua setiap murid. Ia menuturkan ada orang tua siswa yang hanya bekerja nelayan kecil serta kerja secara serabutan.

“(Teknis pembelajaran) secara manual anak mengambil materi ke sekolah yang sudah disiapkan oleh guru mapel, berupa ringkasan dan tugas,” ujarnya.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh seorang guru dari daerah Pamotan yang tidak ingin disebutkan namanya. Menurutnya kendala terkait kepemilikan ponsel memang tidak bisa dipungkiri.  Mengingat ia berada di lingkungan pedesaan.

“Iya tentunya banyak yang  terkendala terkait kepemilikan ponsel, soalnya kita kan masih dalam lingkup lingkungan desa, tidak semua orang mampu membeli ponsel dan tidak semua orang mampu menggunakannya,” jelasnya saat di hubungi via aplikasi pesan singkat pada Selasa (28/7/20/20).

Ia mentebutkan dari 22 siswanya ada 5 orang yang tidak memiliki ponsel “Mungkin 5 anak. Soalnya ada yang gabung jadi 1 kelompok, kadang juga ada yang minta tolong saudara atau tetangganya. Ini cuma 1 kelas.”  (*)

Baca juga: Beberapa Kendala Selama KBM Secara Online

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *