oleh

Peternak Jangkrik Desa Bumiharjo Terancam Gulung Tikar

Pati, SMJTimes.com – Anjloknya harga jual komoditas jangkrik saat ini menjadi pukulan telak bagi para peternak jangkrik di Desa Bumiharjo, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Pasalnya, komoditas ini merupakan satu-satunya sumber mata pencaharian yang diharapkan warga demi menopang kebutuhan hidup dikala pandemi seperti ini.

Sedikitnya, ada sekitar 40 warga yang menggantungkan hidupnya dengan beternak jangkrik. Salah satu peternak jangkrik bernama Hanif Fatoni menuturkan, sejak sebulan terakhir harga jual jangkrik mengalami penurunan yang signifikan.

“Sejak sebulan terakhir harga jangkrik di sini mengalami terjun bebas, “ ujarnya.

Semula harga normal capai Rp 50 ribu per kilogram, kini anjlok dan berada di harga terendah, yakni Rp 16 ribu perkilogram.

Baca Juga :   Jalani Isolasi, Satu Kades di Pati Lakukan Pelantikan Virtual

Padahal dalam beternak jangkrik diperlukan modal yang tak sedikit, mulai dari bibit telur, pakan hingga perawatan. Ia menghitung, jika untuk harga bibit telur saja masih terbilang tinggi yakni Rp 200 ribu perkilogram, dan hanya bisa ditebar pada dua kotak kandang saja.

Ditambah lagi harga pakan yakni voer yang tak kalah tingginya yakni Rp 400 ribu per sack dengan ukuran 50 kilogram.

“Pakan per sack hanya cukup untuk pakan satu kotak saja dalam sebulan panen. Padahal, satu kotak maksimal hanya menghasilkan panen 50 sampai 60 kilogram saja,”

Ia mengaku, jika dikalkulasi hasil panen tidak menutup modal yang sudah dikeluarkan. Belum lagi pengeluaran untuk pakan tambahan dan tenaga.

Baca Juga :   Dewan Sidak Persiapan Pilkades, Terdapat Desa Belum Laporkan APBDes

“Petani sudah berupaya mencari pengepul hingga ke berbagai daerah, tetapi hasilnya nihil yakni harga jual yang sama. Sehingga, menghadapi problem ini,  sejumlah petani memilih untuk vacuum dari beternak jangkrik hingga harga mulai normal kembali,” imbuhnya.

Sementara itu, Teguh Prasetyo yang juga petani jangkrik di desa tersebut berharap ada solusi dari pemerintah atas permasalahan ini. Mengingat, hingga saat ini para petani masih ketergantungan dengan  para tengkulak dalam hal penjualan.

“Kami berharap ada solusi dari pemerintah. Dan semoga para petani nantinya bisa mandiri dalam menjual bahkan mengolah hasil panen, sehingga dapat mendongkrak nilai jual. Tentu hal tersebut tidak terlepas dari campur tangan pemerintah, “ pungkasnya. (*)

Baca Juga :   BOR Rumah Sakit Pati Capai 80 Persen

Komentar

News Feed