oleh

Menara Kostin, Bangunan Tua Saksi Sejarah

Rembang, SMJTimes.com – Bangunan cerobong asap peninggalan masa kolonial menyambut pengunjung saat tiba di Dukuh Tajen, Desa Pamotan, Kabupaten Rembang. Desa tempat Bupati Rembang saat ini bermukim.

Konon, bangunan ini merupakan pabrik pembuatan piring atau gerabah di zamannya. Warga sekitar menyebutnya dengan istilah Kostin. Begitulah tutur Nanang, salah seorang pemuda Tajen saat bercerita, Rabu (23/12/20).

Baca juga : Pembangunan Infrastruktur Pertama Pemindahan Ibu Kota Dianggarkan 865 Miliar

“Yang jelas berdasarkan bukti bangunan fisik, Dukuh Tajen pernah di tempati Belanda.  Ada warga (cucu dari pembantu Belanda saat itu) yang bercerita ke kami bahwa dulu itu pabrik piring, atau gerabah kerajinan dari tanah liat,” imbuhnya.

Nanang menyebut bahwa bangunan yang ada memiliki tinggi sekitar 20 meter dan memilki diameter cerobong sekitar 1 meter. Sedangkan, di pangkal cerobong bangunan terdapat bangunan segi empat, di sanalah piring atau gerabah itu dibakar.

Baca juga : Penutupan Dua Dermaga Tanjung Bonang Tuai Protes Investor

“Di sini berdasarkan informasi serta pengamatan sementara ada 3. Dan yang satu sana patah (paling utara). Konon Benturan dengan sebuah benda,” jelas Nanang.

Bagi Nanang letak bangunan ini mempunyai garis sejarah dengan alur perkembangan kereta api di area Pamotan pada saat itu. Pasalnya, tak jauh dari sana terdapat bangunan bekas stasiun untuk kereta pengangkut barang yang pernah membelah kota Rembang.

Baca juga : Himpun Barang Bekas, Sulap Sampah Jadi Berkah

“Sumber bahan baku (pembuat gerabah) itu barangkali bukan dari sini. Tapi pabriknya di sini. Daerah ini termasuk Dekat stasiun, di selatan tak lebih dari satu meter,”

Namun, kini bangunan Kostin mempunyai kondisi yang memprihatinkan. Selain mengalami beberapa patahan, retak dan rusak karena usia, kondisi menghawatirkan juga terlihat di sekitar tempat bersejarah itu.  Mulai dari banyaknya rumput yang tumbuh di badan bangunan hingga aktivitas pembakaran gamping yang ada di sana.

Baca juga : Empat Poin Utama Cita-cita Kehadiran 5G di Indonesia

“Ini hanya masalah media informasi saja.  Kalau pihak pemerintahan tahu pastinya simpati, kalau kita sendiri punya kesadaran mempublikasi,” jelasnya.

Selanjutnya, Nanang hanya berharap bangunan yang ia nilai sebagai aset dukuhnya itu mampu mendapat perawatan, dari masyarakat maupun pemerintah.

“Sebagai sarana edukasi lah.  Kalau bisa ya bermanfaat dari segi ekonomi,” tutupnya. (*)

Baca juga :

Reporter: Aziz Afifi

Komentar

News Feed