oleh

Kembangkan BUMDes di Jateng, Ganjar Arahkan ke Sektor Pariwisata

Klaten – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi langkah bagi pemerintah untuk menumbuhkan perekonomian daerah. Khususnya di Jawa Tengah kualitas BUMDes diakui menjadi yang terbaik di tingkat Nasional.

Jumlah BUMDes di Jateng tercatat salah satu yang terbanyak di Indonesia. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan saat ini di wilayahnya terdapat 2511 BUMDes. Padahal sampai akhir 2017 jumlah BUMDes hanya sebanyak 1993.

Salah satunya di Klaten, Kafe Kopi Sawah menjadi primadona masyarakat setempat. Kafe yang kental dengan nuansa alam pinggir sawah ini merupakan besutan dari BUMDes setempat.

“Kafe di atas tanah banda desa seluas 0,7 hektare ini adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Omzet perbulan sekitar seratus lima puluh juta selama tujuh bulan ini. Untuk bulan ini dalam setengah bulan omzet sudah tujuh puluh lima juta. Yang masuk desa sebesar 30 persen dari keuntungan bersih,” ujar Lathif, Manager Kafe Kopi Sawah.

Kafe yang dibentuk dari investasi sebesar Rp 450 juta itu tidak terlepas dari peran Agung Widodo, Kepala Desa Jomboran.

Bahkan, kafe tersebut dinilai secara hitungan kasar mampu mencapai BEP (Break Even Point) hanya dalam waktu dua tahun.

Tidak hanya itu, BUMDes Desa Karangkandri, Kesugihan, Cilacap dengan usaha PLTU dan BUMDes Tirta Mandiri Klaten yang terkenal akan Umbul Ponggok-nya dinilai menjadi BUMDes yang sukses hingga saat ini.

Baca juga: Produk Inovatif dan Seni Budaya Bakal Semarakkan Pesta Rakyat Jateng 2019 

Melihat nilai positif ini, Gubernur Jateng Ganjar berharap agar desa-desa lain bisa mengejar prestasi dari dua BUMDes terbaik itu. Oleh sebab itu,Ganjar focus menggarap pengembangan sumberdaya manusia di periode kepemimpinannya yang kedua ini.

“Lebih utamanya yang berbasis desa. Misalnya pariwisata desa. Kenapa pariwisata? Sektor ini pengungkit yang paling efektif untuk meningkatkan taraf kehidupan. Pendidikan, sosial, kesehatan khususnya perekonomian,” katanya.

Ganjar mengarahkan agar beberapa sektor, dari jasa keuangan, jasa non keuangan, pariwisata, persewaan, perdagangan, pertanian, peternakan, perikanan sampai kerajinan bisa menjadi usaha BUMDes yang dikembangkan selanjutnya.

Meski sektor yang terbanyak adalah jasa keuangan (659 BUMDes), namun pariwisata tengah menjadi primadona dengan potensi alam Jateng yang kaya dan unik.

Saat ini BUMDes pariwisata sedang merambah naik dengan catatan terakhir mencapai 150 unit.

“Karena ini harus dibangun bareng-bareng. Maka saya mendorong para akademisi melakukan pendampingan pada desa-desa. Kalau di Jomboran ini kan memang didampingi akademisi, dulu ada dari UNS dan Profesor dari UGM. Saya yakin ini akan jadi energi luar biasa bagi desa-desa lain di Jawa Tengah,” katanya. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *