SMJTimes.com – Dalam rangka menghemat energi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong tingginya harga bahan bakar global, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. memutuskan untuk mengurangi jam kerja kantor menjadi hanya empat hari.
Dalam hal ini, kebijakan sementara tersebut tidak diberlakukan bagi pelayanan darurat termasuk polisi, petugas pemadam kebakaran (damkar), dan sejumlah lembaga lainnya yang memberikan pelayanan garda terdepan untuk masyarakat.
Selain itu, upaya negara tersebut juga terlihat dari keluarnya perintah terhadap seluruh lembaga pemerintahan untuk mengurangi penggunaan listrik dan biaya bahan bakar hingga sejumlah 10-20 persen.
“Semua perjalanan dan kegiatan pemerintah yang tidak penting juga dilarang sementara, seperti studi banding, kegiatan membangun tim, atau pertemuan yang dapat dilakukan secara daring,” jelas Marcos, dilansir dari Detik Finance, Senin (09/03/2026).
Di tengah perang yang memanas antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, Filipina sebagai negara yang mengimpor hampir seluruh kebutuhan minyaknya tentu akan terdampak dalam kasus ini hingga memicu inflasi yang saat ini telah mencapai level tertinggi untuk 13 bulan pada Februari.
“Saudara-saudaraku, kita tidak tahu kapan kekacauan di Timur Tengah akan berakhir. Kita adalah korban perang yang tidak kita pilih dan tidak kita inginkan. Kita tidak dapat mengendalikan perang, tetapi kita dapat mengendalikan bagaimana kita akan melindungi rakyat Filipina,” katanya.
Perlu diketahui, para ekonom secara luas memandang negara Filipina sebagai salah satu wilayah yang paling rentan terhadap inflasi dan risiko pertumbuhan akibat konflik Timur Tengah, di antara kawasan Asia-Pasifik.
“Negara ini cenderung mengalami dampak inflasi yang lebih kuat karena harga bahan bakar ritel lebih didorong oleh pasar dan subsidi terbatas,” ucap Kepala Riset Regional di ING Bank NV, Deepali Bhargava. (*)










Komentar