Rekomendasi Film yang Menginspirasi, Cocok Ditonton di Bulan Ramadan

Bagikan ke :

SMJTimes.com – Sekarang ini, industri perfilman Indonesia telah berkembang pesat. Berbagai genre ditawarkan mulai dari aksi, romantis, hingga horor yang menjadi primadona bagi penikmat film. Selain genre-genre tersebut, ada salah satu jenis film yang menawarkan sebuah nilai kehidupan dengan mengangkat kisah hijrah tokoh untuk menjadi insan yang lebih baik sesuai dengan tuntutan agama. Film-film jenis ini sangat cocok ditonton di bulan Ramadan. Kebanyakan memiliki kisah inspiratif yang dibalut dengan spiritualitas para karakter-karakter di dalamnya.

Berikut beberapa rekomendasi film yang bisa anda tonton sembari menunggu waktu berbuka.

Ayat-Ayat Cinta (2008)

Ayat-ayat cinta merupakan kisah adaptasi dari buku karangan Habiburrahman El Shirazy, yang dibintangi oleh Fedi Nuril, Rianti Cartwright dan Carissa Putri. Film ini menceritakan sosok Fahri, pemuda Indonesia yang sedang meneruskan pendidikan masternya di Al-Azhar, Mesir. Fahri seseorang yang begitu lurus, namun antusias terhadap bidang-bidang keilmuan. Selama hidupnya, dia tidak pernah mengenal hubungan pacarana dan sedikit kikuk jika berhadapan dengan perempuan. Ia memiliki seorang tetangga yang bersedia membantunya bernama Maria, seorang Kristen Koptik tetapi mengagumi Al-Quran. Ada pula Nurul, anak sang kiai yang dihormatinya, serta Noura, salah satu tetangganya yang disiksa hingga memunculkan empati dari hatinya. Terakhir, muncul Aisha, seorang perempuan yang tidak sengaja ditemuinya di metro lewat kejadian tak terduga, namun mempu memberikan kesan mendalam bagi Fahri.

Hafalan Shalat Delisa (2011)

Film ini merupakan adaptasi dari sebuah novel karangan Tere Liye dengan judul yang sama. Hafalan Shalat Delisa dibintangi oleh Chantiq Schagerl sebagai Delisa, Reza Rahardian sebagai Abi dan Nirina Zubir sebagai Umi. Film ini mengisahkan tentang seorang gadis kecil periang bernama Delisa, si bungsu di keluarganya. 26 Desember 2004, saat Delisa bersiap melafalkan hafalan salatnya, sebuah bencana gempa dan tsunami menghantam desa, menggulung ratusan orang-orang disana. Bencana tersebut membuat Delisa kehilangan salah satu kakinya, Ummi dan ketiga kakaknya. Ditengah kesedihannya, Delisa dan sang ayah yang biasa dipanggilnya dengan Abi tetap melanjutkan hidup dan mencoba bertahan meski berat. Film ini mengajarkan tentang apa itu mengikhlaskan dan bagaimana kesedihan berubah menjadi kekuatan.

Negeri 5 Menara (2012)

Awalnya, Negeri 5 Menara ini merupakan kisah dari novel karya A. Fuadi, kemudian digarap oleh Kompas Gramedia Production dengan Million Pictures dan ditulis oleh Salman Aristo, serta disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman. Film ini dibintangi oleh Ariyo Wahab, Ikang Fawzi, Lulu Tobing, Donny Alamsyah, serta beberapa aktor lainnya.

Film ini berkisah tentang Ali yang tinggal di pinggin Danau Maninjau, dan tidak pernah keluar sama sekali dari wilayah Minangkabau. Ia seseorang dengan mimpi tinggi, mengikuti perintah sang ibu untuk belajar di sebuah pondok di pelosok Jawa Timur, yakni Pondok Madani (PM). Kemudian, saat memasukki kelas pertamanya, ia merasa takjub dengan suatu mantra ‘man jadda wajada’ yang artinya, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan sukses. Bersama teman-temannya, mereka berambisi untuk menaklukan dunia. Mulai dari tanah Indonesia, Amerika, Eropa, Asia bahkan Afrika.

Film ini mengambil lokasi syuting di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur, Sumatra Barat, Bandung, hingga London.

Komentar