oleh

Ternyata Ini Penyebab Tindihan Menurut Medis

SMJTimes.com – Mungkin kamu tak asing lagi dengan istilah tindihan atau Sleep paralysis. Iya, di Indonesia tindihan seringkali dikaitkan dengan hal mistis.

Tindihan sendiri merupakan perasaan tidak bisa bergerak, baik pada awal tidur atau saat bangun. Pasalnya, orang yang mengalami tindihan merasa seolah-olah ada tekanan pada tubuh mereka.

Mengutip Medical News Today, sleep paralysis tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan kecemasan.

Kondisi ini bisa terjadi bersamaan dengan gangguan tidur lainnya, seperti narkolepsi. Ini sering dialami selama masa remaja dan dapat sering terjadi pada usia 20-an dan 30-an.

Gejala Tindihan

  • ketidakmampuan untuk menggerakkan tubuh saat tertidur atau saat bangun, berlangsung selama beberapa detik atau beberapa menit secara sadar terjaga
  • tidak dapat berbicara selama episode
  • mengalami halusinasi dan sensasi yang menimbulkan rasa takut
  • merasakan tekanan di dada
  • mengalami kesulitan bernapas
  • merasa seolah-olah kematian sudah dekat
  • berkeringat
  • mengalami sakit kepala, nyeri otot, dan paranoia

Sleep paralysis adalah parasomnia, atau peristiwa yang tidak diinginkan yang berhubungan dengan tidur. Itu terjadi tepat setelah tertidur atau saat bangun di pagi hari, di antara waktu bangun dan tidur. Episode sering disertai dengan pengalaman hypnagogic, yaitu halusinasi visual, auditori, dan sensorik.

Baca Juga :   Sederet Manfaat Air Es bagi Kesehatan

Ini terjadi selama transisi antara tidur dan bangun, serta secara konsisten terjadi dalam salah satu dari tiga kategori:

  1. Intruder: Ada suara kenop pintu terbuka, langkah kaki menyeret, bayangan manusia, atau rasa kehadiran yang mengancam di dalam ruangan.
  2. Incubus: Perasaan tertekan di dada, kesulitan bernapas dengan rasa dicekik, dicekik, atau diserang secara seksual oleh makhluk jahat. Individu percaya bahwa mereka akan mati.
  3. Vestibular-motor: Perasaan berputar, jatuh, melayang, terbang, melayang di atas tubuh seseorang atau jenis lain dari pengalaman di luar tubuh.

Saat tidur, tubuh rileks, dan otot-otot sukarela tidak bergerak. Sleep paralysis melibatkan gangguan atau fragmentasi dari siklus tidur gerakan mata cepat (REM). Tubuh bergantian antara gerakan mata cepat (REM) dan gerakan mata tidak cepat (NREM).

Satu siklus REM-NREM berlangsung sekitar 90 menit dan sebagian besar waktu yang dihabiskan untuk tidur adalah dalam NREM. Selama NREM, tubuh rileks. Selama REM, mata bergerak cepat, tetapi tubuh rileks.

Baca Juga :   Tarif Rapid Test di Pati Turun Jadi Rp 150 Ribu

Dalam sleep paralysis, transisi tubuh ke atau dari tidur REM tidak sinkron dengan otak. Kesadaran orang tersebut terjaga, tetapi tubuh mereka tetap dalam keadaan tidur yang lumpuh. Area otak yang mendeteksi ancaman berada dalam kondisi tinggi dan terlalu sensitif.

Faktor-faktor yang telah dikaitkan dengan sleep paralysis antara lain: narkolepsi pola tidur tidak teratur, misalnya karena jet lag atau kerja shift tidur telentang riwayat keluarga Sleep paralysis dapat menjadi gejala masalah medis, seperti depresi klinis, migrain, apnea tidur obstruktif, hipertensi, dan gangguan kecemasan.

Tidak ada pengobatan khusus untuk sleep paralysis, tetapi manajemen stres, menjaga jadwal tidur yang teratur, dan mengamati kebiasaan tidur yang baik dapat mengurangi kemungkinan tersebut.

Strategi untuk meningkatkan kebersihan tidur meliputi,

  • menjaga waktu tidur dan waktu bangun tetap konsisten, bahkan pada hari libur dan akhir pekan
  • memastikan lingkungan tidur yang nyaman dengan tempat tidur dan pakaian tidur yang sesuai dan kamar tidur yang bersih, gelap, dan sejuk
  • mengurangi paparan cahaya di malam hari mendapatkan paparan siang hari yang baik selama jam bangun
  • tidak bekerja atau belajar di kamar tidur
  • menghindari tidur siang setelah pukul 15:00 tidak makan malam yang berat, atau makan dalam waktu 2 jam
  • sebelum tidur tidak tidur dengan lampu atau televisi menyala
  • berpantang dari alkohol malam atau produk kafein
  • berolahraga setiap hari, tetapi tidak dalam waktu 2 jam sebelum tidur termasuk aktivitas menenangkan dalam ritual sebelum tidur, seperti membaca atau mendengarkan musik yang menenangkan
  • meninggalkan ponsel dan perangkat lain di luar kamar tidur
  • mengesampingkan elektronik setidaknya 1 jam sebelum tidur.
Baca Juga :   Kefir atau Yogurt, Lebih Sehat Mana?

Komentar

News Feed