SMJTimes.com – Perdana Menteri (PM) Singapura, Lawrence Wong diserbu oleh netizen Indonesia setelah dirinya menyebut bahwa wayang kulit ikut berkontribusi dalam pembentukan budaya Melayu yang ada di negaranya.
PM Wong tercatat mengunggah sebuah video di akun media sosial Instagram pribadinya, yang memperlihatkan dirinya tengah memainkan wayang kulit berkarakter Semar di Pusat Warisan Budaya Melayu, Singapura.
Dalam hal ini, kehadirannya di Pusat Warisan Melayu (Malay Heritage Centre) yang terletak di kawasan bersejarah Kampong Glam, 85 Sultan Gate, Singapura 198501, itu bertujuan untuk ikut mempromosikan pertunjukan seni berupa wayang kulit.
“Temukan seni wayang kulit dan saksikan langsung di Pusat Warisan Budaya Melayu,” berikut isi tulisan dalam caption unggahan video singkat di akun Instagram pribadi PM Wong, dilansir dari CNN Indonesia.
“Salah satu pameran terbaru di pusat tersebut, mencerminkan bagaimana pengaruh dari seluruh nusantara telah menyatu untuk membentuk budaya Melayu Singapura kita,” lanjutnya, dikutip Kamis (30/04/2026).
Hal itulah yang membuat unggahan tersebut secara langsung mendapatkan serbuan dari sejumlah netizen yang mayoritasnya berasal dari negara Indonesia.
Mayoritas, para netizen itu mencoba menjelaskan bahwa wayang kulit, utamanya karakter tokoh Semar, merupakan karya seni yang berasal dari Indonesia, terutama budaya dari Pulau Jawa.
“Wayang Kulit berasal dari Indonesia khususnya Yogyakarta dan Surakarta karena ceritanya berasal dari Mahabarata dan Ramayana,” tulis salah satu di antara netizen dalam kolom komentar di akun Instagram @lawrencewongst.
“Mungkin ada baiknya mempertimbangkan untuk mengubah nama dari Pusat Warisan Melayu menjadi Pusat Warisan Nusantara, sehingga Anda dapat menyimpan wayang kami dengan aman di sana. Dan tidak akan ada lagi protes dari kami. Terima kasih,” berikut komentar dari akun lainnya.
Perlu diketahui, sejumlah lakon yang ada di dalam wayang kulit seperti Mahabarata dan Ramayana sebetulnya disadur dari folklor (cerita rakyat) peradaban Hindu-India yang kemudian diadopsi dan dicampurkan dengan budaya lokal nusantara. (*)











Komentar