SMJTimes.com – Juru Bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari mengatakan bahwa Iran akan mengambil langkah balasan di tengah ancaman Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, jika menyerang hingga kepada fasilitas energi di negara tersebut.
Melansir dari Antara News, pernyataan tersebut terjadi setelah Trump mengaku akan menghancurkan pembangkit listrik Iran, jika pihaknya tidak melakukan pembukaan kembali terhadap Selat Hormuz dalam kurun waktu 48 jam.
“Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang oleh musuh, seluruh infrastruktur energi, serta fasilitas teknologi informasi dan desalinasi air milik AS dan rezim di kawasan akan menjadi sasaran sesuai peringatan sebelumnya,” ungkap Zolfaghari, dikutip Senin (23/03/2026).
Perlu diketahui, AS bersama dengan Israel sejak 28 Februari 2026 telah mulai melakukan serangan terhadap sejumlah target yang ada di Iran termasuk Ibu Kota Teheran, hingga menimbulkan adanya kerusakan dan korban jiwa dari rakyat sipil.
Atas hal tersebut, Iran langsung melakukan serangan pembalasan terhadap wilayah Israel beserta target militer AS yang ada di Timur Tengah, sebagai bentuk bagian dari pertahanan diri.
Mulanya, kedua negara tersebut melakukan penyerangan yang ditujukan untuk menghadapi ancaman dari program nuklir Iran. Namun setelahnya, AS dan Israel menegaskan bahwa keduanya ingin menyaksikan terjadinya perubahan kekuasaan yang ada di negara Iran. (*)











Komentar