SMJTimes.com – Meski Amerika Serikat (AS) mempersiapkan sejumlah langkah baru untuk mencekik perekonomian Kuba, namun negara yang ada di Kepulauan Karibia tersebut diketahui tidak akan melepaskan kedaulatannya begitu saja.
Keoptimisan tersebut berasal dari pernyataan yang dikeluarkan oleh Duta Besar Kuba untuk Ekuador, Basilio Gutierrez, kepada kantor berita nasional Rusia, RIA Novosti.
“Rakyat Kuba sedang menghadapi masa-masa sulit, tetapi dalam keadaan apa pun kami tidak akan meninggalkan kedaulatan kami dan sistem pemerintahan yang kami pilih secara bebas bertahun-tahun yang lalu,” tegas Gutierrez, dikutip dari Antara, Senin (02/02/2026).
Dalam hal ini, Presiden AS, Donald Trump menandatangani sebuah perintah eksekutif yang berisi tentang perizinan terkait pengenaan tarif impor pada sejumlah barang dari negara yang menjual maupun memasok minyak ke Kuba.
Kebijakan ini bahkan menyertakan adanya kondisi daerat dengan alasan ancaman terhadap keamanan nasional yang diduga berasal dari Ibu Kota Kuba, Havana. Hal ini memunculkan kecaman keras terhadap tekanan yang didapat negaranya dari Pemerintah AS.
Kecaman tersebut terlihat dari Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez Parrilla, pada Kamis (29/01/2026) yang mengatakan bahwa Washington sedang berupaya memaksakan kondisi hidup ekstrem kepada rakyat Kuba, melalui dorongan blokade de facto atas pasokan bahan bakar.
Hal ini menjadikan Kuba mengalami krisis berupa pemadaman listrik yang telah berlangsung selama lebih dari 12 jam. Kemudian, masyarakat Kuba juga diketahui sedang kekurangan makanan, obat-obatan hingga bahan bakar.
Pihak berwenang secara otomatis menyalahkan situasi tersebut pada sanki ekonomi yang dijatuhkan oleh AS dan tetap diberlakukan selama lebih dari enam dekade, meski telah mendapat kecaman internasional secara luas. (*)











Komentar