BPS Catat Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke RI 2026 Tertinggi Sejak 2020 Sebesar 6,07 Juta

Bagikan ke :

SMJTimes.com – Sepanjang Januari-Mei 2026, Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS RI) mencatatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia yang mencapai hingga 6,07 juta, atau tumbuh sebesar 7,68 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025.

“Capaian kunjungan wisman (wisatawan mancanegara) Januari sampai dengan Mei 2026 ini merupakan yang tertinggi sejak 2020,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Jakarta, dilansir dari IDN Times.

Pada perinciannya, BPS RI mencatat wisatawan mancanegara terbanyak berasal dari Malaysia dengan jumlah total mencapai 21,58 persen, 11,22 persen untuk Australia, dan 9,89 persen bagi Singapura, baik secara bulanan maupun tahunan.

Kemudian, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Provinsi Bali tercatat sebagai pintu masuk utama terbanyak bagi kedatangan wisatawan mancanegara, dengan dipenuhi oleh pemegang paspor negara Australia.

Sementara itu, jumlah perjalanan yang dilakukan oleh Warga Negara Indonesia (WNI) ke luar negeri dicatatkan oleh BPS pada Mei 2026 sebanyak 550.382 kunjungan, atau mengalami penurunan sebesar 14,49 persen dibandingkan April 2026 dan melemah 6,05 persen secara tahunan.

“Penurunan ini dipengaruhi antara lain oleh kenaikan harga tiket pesawat akibat naiknya harga avtur (bahan bakar) serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara tujuan utama,” jelasnya, dikutip Jumat (03/07/2026).

Di sisi lain, jumlah perjalanan wisatawan nusantara sepanjang periode Januari-Mei 2026 justru mencapai hingga 523,22 juta kunjungan, atau mengalami pertumbuhan sebesar 2,86 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

“Capaian perjalanan wisnus (wisatawan nusantara) Januari sampai dengan Mei 2026 merupakan yang tertinggi sejak tahun 2021,” katanya.

Dalam hal ini, kenaikan perjalanan wisatawan domestik sepanjang tahun 2026 ini menunjukkan adanya mobilitas masyarakat yang masih terjaga di tengah sejumlah dinamika ekonomi. (*)

Komentar