SMJTimes.com – Di tengah upaya pencapaian kesepakatan dengan Iran, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memberhentikan sementara Project Freedom yang sebelumnya bertujuan untuk memulihkan keamanan navigasi dan pembebasan 2.000 kapal yang terjebak akibat blokade.
Dalam hal ini, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mengatakan bahwa operasi yang baru saja dimulai pada 4 Mei 2026 itu dilakukan untuk mengawal kapal dagang yang terjebak keluar dari kawasan Teluk akibat penutupan Selat Hormuz.
Menurut Marco, penutupan Selat Hormuz yang terjadi sejak pecahnya konflik AS dengan Iran itu menghasilkan dampak pada penghambatan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia yang memicu adanya krisis energi global.
Melansir dari Detik, Trump menyatakan secara langsung melalui media sosial X (Twitter)-nya terkait Project Freedom yang akan diberhentikan sementara. Dalam pernyataan tersebut, Trump menyebut tujuannya untuk melihat apakah kesepakatan damai dengan Iran bisa segera difinalisasi.
Tidak lama setelah adanya pengumuman tersebut, harga minyak mentah AS mengalami penurunan sebanyak lebih dari 2.30 hingga di bawah 100 dolar AS atau setara dengan Rp40 ribu sampai Rp1,7 juta per barel. Angka tersebut patut dipantau sejak adanya lonjakan harga energi dua bulan terakhir.
Sebelumnya, Marco bersama pejabat tinggi lainnya menyatakan ketidakbolehan Iran untuk melakukan pengendalian lalu lintas di Selat Hormuz yang selama ini telah menutup jalur tersebut dengan ancaman ranjau, drone, rudal hingga kapal cepat.
Oleh karena itu, AS merespons hal tersebut dengan memblokade pelabuhan Iran dan mengerahkan pengawalan militernya melalui penghancuran terhadap sejumlah kapal kecil, drone, maupun rudal jelajah Iran. (*)











Komentar