SMJTimes.com – Fenomena penutupan hingga akuisisi dealer mobil merek Jepang yang mulai terlihat di industri otomotif nasional memunculkan kekhawatiran adanya pergeseran besar terhadap struktur pasar otomotif yang ada di Republik Indonesia (RI).
Setelah sepanjang puluhan tahun merek Jepang dijadikan tulang punggung industri otomotif nasional mulai dari penjualan, produksi, hingga kontribusi terhadap ekspor dan pajak, kini posisi tersebut tengah menghadapi tekanan baru.
Melansir dari CNBC Indonesia, Peneliti Senior Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi mengatakan bahwa kondisi tersebut memungkinkan munculnya sinyal yang perlu dicermati serius oleh pemerintah, lantaran dinilai bukan sekadar dinamika bisnis pada umumnya.
Dalam hal ini, Agus memberi arahan kepada Pemerintah Pusat untuk belajar dari Malaysia yang selama ini melakukan perlindungan terhadap existing industry atau perusahaan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi suatu negara.
“Jadi di sisi ini itu mungkin lesson learned dari Malaysia, jadi penting ya bahwa harus ada keberpihakan melindungi existing industry yang jelas-jelas sudah berkontribusi selama ini,” jelas Agus, dikutip Jumat (17/04/2026).
Perlu diketahui, Malaysia melalui Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri (MITI) disebut memberlakukan kewajiban investasi manufaktur asing tertentu untuk melakukan 80% ekspor dengan 20% lainnya ditujukan bagi lokal. Hal ini bertujuan untuk melindungi industri otomotif lokal.
Menurut Agus, investasi dan pemain baru memang penting bagi pertumbuhan industri. Namun, Pemerintah RI dinilai menghadirkan kecenderungan yang terlalu berfokus pada investasi baru tanpa memperhatikan keberlanjutan industri yang sudah ada.
“Jadi kita jangan jadi lupa. Jadi yang ini seolah-olah enggak ada artinya, yang selama ini padahal itulah yang menopang kita selama ini,” katanya. (*)











Komentar