SMJTimes.com – Meski Amerika Serikat (AS) sedang dalam upaya penekanan pendapatan energi bagi Ibu Kota Moskow melalui kebijakan perdagangan dan penerapan sejumlah sanksi, Rusia justru mencatatkan rekor barunya ke Cina terkait dengan ekspor minyak mentah.
Melansir dari IDN Financials, data terbaru menunjukkan bahwa posisi Cina kini dijadikan sebagai pasar utama sekaligus penopang terbesar terkait dengan bisnis ekspor minyak mentah yang ada di Negara Rusia.
Dalam perinciannya, pengiriman minyak mentah Rusia ke Cina sepanjang Januari 2026 melalui jalur perdagangan laut telah mencapai angka hingga sebesar 1,86 juta barel per hari (bph). Angka tersebut diketahui menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.
Salah satu jenis minyak mentah utama yang diproduksi dari Rusia bernama ESPO Blend (Eastern Siberia Pacific Ocean) dieskpor untuk diarahkan ke pasar Cina, di mana lebih dari separuh volume berhasil dimuat dari pelabuhan Kozmino dan Sakhalin.
Jika dilihat tanpa diharuskan untuk menghitung pasoka pipanya, volume pengiriman tersebut sebesar 46 persen lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor Arab Saudi ke Cina. Salah satu faktor terbesar terkait dengan daya tarik utamanya terletak dari harganya yang lebih murah.
Minyak mentah Rusia diperdagangkan dengan diskon mencapai hingga 7 dolar AS per barel dibandingkan dengan Brent. Sementara, Moskow diharuskan menanggung sebagian besar biaya baik dari logistik, asuransi maupun risiko geopolitiknya.
Skema tersebutlah yang akhirnya membuat sejumlah kilang yang ada di Cina berhasil memperoleh pasokan murah sekaligus stabil dari Rusia. Kemudian, faktor geopolitik juga turut mendorong pergeseran ini.
Akibat tekanan sanksi dari Barat, ketidakpastian pasokan dari Venezuela maupun Iran membuat Cina harus mencari sumber energi yang lebih aman sekaligus dekat secara geografis. Dan untuk hal ini, Rusia dinilai memenuhi kriteria yang sedang dicari oleh Cina. (*)







Komentar