SMJTimes.com – Menurut data pelacakan maritim per 23 Januari 2026, sejumlah kapal terpantau beroperasi di jalur sempit yang dikenal sebagai maritime choke point, yaitu perairan Kooh Mobarak, pesisir selatan Iran, menuju Selat Hormuz.
Julukannya sebagai maritime choke point ini didapat lantaran kategorinya sebagai titik kritis lalu lintas energi yang ada di dunia. Kawasan ini menjadi sorotan, lantaran Selat Hormuz selalu dijadikan sebagai jalur bagi sekitar seperlima konsumsi minyak global.
Melansir dari IDN Financials, data dari Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) menunjukkan sedikitnya enam kapal, termasuk kapal berbendera Iran dan Inggris, yang berada di area Selat Hormuz yang dikenal memiliki peran yang cukup vital dalam rantai pasok energi yang ada di dunia.
Kemunculan sejumlah kapal ini bertepatan dengan waktu di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah. Selain enam kapal yang ada di sekitar Selat Hormuz, puluhan kapal Iran lainnya juga terpantau berada di Laut Arab dan Teluk Persia, yang berdekatan dengan kehadiran militer Amerika Serikat (AS).
Diketahui, Presiden AS, Donald Trump menegaskan, pengerahan sejumlah armada ini bersifat pencegahan. Dalam hal ini, Washington tengah melakukan pemantauan secara ketat bagi Iran, guna mencegah adanya eskalasi lebih lanjut.
Sementara dari sisi Iran, peringatan keras juga kembali disampaikan, melalui Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi yang menegaskan, Teheran dipastikan akan membalas dengan kekuatan penuh jika terjadi serangan baru.
Dalam penilaiannya, konflik terbuka ini tidak hanya berdampak bagi kawasan Timur Tengah, melainkan meluas hingga bagi stabilitas global dan masyarakat internasional. Menurutnya, perkembangan yang ada di sekitar Selat Hormuz menjadi faktor krusial bagi pasar keuangan dan energi.
Setiap eskalasi terjadi, berpotensi mampu mengganggu arus pengiriman minyak dunia, memicu volatilitas harga energi, bahkan hingga dapat menambah tekanan pada perekonomian global yang masih rentan terhadap risiko geopolitik. (*)











Komentar