oleh

Mahalnya Harga Bawang Merah Dikritisi Anggota Komisi B DPRD

Pati, SMJTimes.com – Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati pertanyakan sebab anjloknya harga bawang merah di Kabupaten Pati.

Hari ini, Kamis (31/3/2022) DPRD Kabupaten Pati didatangi oleh paguyuban petani bawang merah yang meminta solusi agar Pemkab Pati bisa menaikkan harga secepatnya.

Kepala Desa Ngurenrejo Kecamatan Wedarijaksa menyebut, harga bawang merah di tingkat petani saat ini berada di angka Rp13.800 per kilogram.

Mahalnya Harga Bawang Merah Dikritisi Anggota Komisi B DPRD

Dengan harga tersebut bisa dipastikan petani hanya menutup ongkos produksi bahkan merugi.

Anjloknya harga bawang merah di pasaran karena adanya stok yang melimpah pasca panen bawang bulan ini.

Fenomena melimpahnya stok bawang merah di Kabupaten Pati tersebut mendapat sorotan dari politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Pati, Nur Laela.

Baca Juga :   Pengadaan Sarpras Alun-alun Kembang Joyo Terus Diawasi

Pasalnya, ia baru-baru ini menemukan data penurunan produksi bawang merah nasional  hingga 50 persen.

Penurunan ini disebabkan karena tren petani untuk menanam bawang merah belakangan ini mengalami penurunan. Kondisi itu bisa dimanfaatkan para petani Pati untuk menjual bawang ke luar daerah.

“Update data dari Kementerian Pertanian malah terjadi turun provitas 50 persen. Dan harga bawang saat ini rata disebutkan Rp24-30 ribu. Karena harga fluktuatif yang menyebabkan sentra bawang berhenti produksi,” ujar Nur Laela dalam audiensi tersebut.

Sementara, Sunardi salah seorang Anggota Paguyuban Petani Bawang Pati menjelaskan bahwa data produksi nasional kurang bisa dijadikan acuan daerah.

Anjloknya harga bawang merah di tingkat petani disebabkan karena rantai distribusi perdagangan yang teramat panjang.

Baca Juga :   Pahlawan Santri Asal Pati, Gus Hasyim

“Mengapa ada perbedaan di Pati bahwa panen tidak menjual langsung ke pasar. Mulai di sawah dijual pedagang kecil. Kemudian di pengepul sedang, lalu pengepul besar ke pedagang besar. Banyaknya rangkaian ini yang menyebabkan petani rugi,” jawab Sunardi. (*)

Komentar

News Feed