SMJTimes.com – Gelombang panas (heatwave) atau cuaca dengan suhu tinggi sangat ekstrem sebesar 40 derajat Celsius tengah menghantui masyarakat wilayah Eropa. Hal ini menyebabkan sejumlah kawasan kebakaran hutan hingga ribuan orang meninggal.
Melansir dari Detik, World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia mengeluarkan laporan terkait dengan sebanyak lebih dari 1.300 kematian yang diakibatkan oleh adanya gelombang panas ekstrem di Eropa sejak 21 Juni 2026.
Terkait fenomena tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan ilmiah terkait dengan gelombang panas bersuhu 40 derajat Celcius, yang dipicu oleh adanya kondisi di mana udara mengalami penurunan yang terkompresi.
“Para ahli menjelaskan bahwa suhu ekstrem ini dipicu oleh fenomena kubah panas (heat dome), di mana udara yang turun terkompresi dan memanas, sehingga mencegah terbentuknya awan,” jelas BMKG dalam laman resminya.
“Kondisi ini sering kali ditopang oleh pola cuaca omega block (wilayah bertekanan udara tinggi terjebak di antara dua wilayah bertekanan udara rendah di sisi barat dan timurnya) yang mengunci sistem udara panas di satu wilayah selama berhari-hari,” tambahnya.
Selain itu, tingginya angka kematian yang melanda Eropa juga dipengaruhi oleh kondisi demografis dan infrastruktur yang tercatat mengalami kerentanan.
“Tingginya angka kematian di Eropa sangat dipengaruhi oleh kerentanan demografis dan infrastruktur,” katanya, dikutip Jumat (03/07/2026).
Kemudian, tingginya angka kematian juga dipicu oleh wilayah Eropa yang tidak terbiasa dengan gelombang panas ekstrem lantaran bangunannya yang secara paten dirancang untuk menghadapi musim dingin, di mana hal tersebut berbeda dengan Amerika Serikat (AS). (*)



Komentar