SMJTimes.com – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menyatakan perlunya kehadiran pasukan PBB di Lebanon sebagai bagian dari pengganti United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) ketika konflik tengah memanas.
Melansir dari CNN Indonesia, hal tersebut dikarenakan Dewan Keamanan PBB yang memutuskan untuk mengakhiri mandat pasukan UNIFIL di akhir tahun 2026 setelah mendapatkan tekanan langsung dari Amerika Serikat (AS).
Setelah mereka mengajukan permintaan terhadap Guterres untuk menurunkan mandat, Sekjen PBB itu menginisiasikan pengerahan pasukan PBB 2.000-5.500 personel guna melakukan pemantauan terhadap gencatan senjata Israel dan Hizbullah sebagai milisi di Lebanon.
“Kehadiran personel PBB berseragam yang bekerja untuk memfasilitasi de-eskalasi, dialog, penghubungan dan koordinasi, serta dukungan untuk Angkatan Bersenjata Lebanon, akan diperlukan menuju tujuan utama solusi jangka panjang untuk konflik tersebut,” jelas Guteres dalam laporannya.
Menanggapi laporan tesebut, sejumlah sumber Lebanon justru mengatakan adanya dukungan dari pemerintah terhadap kehadiran pasukan PBB setelah mandat UNIFIL dinyatakan habis.
Duta Besar Lebanon untuk PBB, Ahmad Arofa mengatakan bahwa perkembangan yang terjadi saat ini hanya meningkatkan kebutuhan mendesak Lebanon akan bantuan PBB dan komunitas internasional yang berkelanjutan.
“Khususnya untuk memfasilitasi penarikan Israel di satu sisi, dan untuk memungkinkan negara tersebut memperluas otoritasnya atas seluruh wilayahnya di sisi lain,” ujarnya, dikutip Rabu (03/06/2026).
Salah satu dukungan terhadap penggantian UNIFIL datang dari anggota Dewan Keamanan seperti Cina dan Rusia.
“Karena mandat UNIFIL akan segera berakhir, Dewan Keamanan harus mengambil keputusan yang bertanggung jawab untuk memastikan kehadiran PBB yang berkelanjutan di Lebanon, dan untuk mencegah kekosongan keamanan,” ucap Duta Besar Cina untuk PBB, Fu Cong. (*)











Komentar