SMJTimes.com – Seorang pakar Ilmu Tanah dari Universitas Andalas Sumatera Barat (Unand Sumbar), Dian Fiantis mengungkap alasan terkait Republik Indonesia yang hingga kini masih menggantungkan kebutuhan kedelai pada impor.
Menurutnya, budi daya kedelai nasional di Indonesia saat ini yang masih bergantung pada importasi dipengaruhi oleh adanya faktor kondisi kesuburan tanah, iklim tropis, hingga sistem budi dayanya yang belum cukup optimal.
Dalam hal ini, Dian menjelaskan bahwa kondisi tanah tropis di Indonesia umumnya bersifat masam, kurangnya bahan organik, hingga kandungan besi dan tingginya alumunium yang dimiliki, mampu mengikat unsur hara penting seperti fosfor.
Sementara, peran fosfor tercatat cukup penting untuk membentuk energi tanaman pada proses pengisian biji. Oleh sebab itu, kurangnya fosfor terkait hal ini menjadi penyebab kedelai tidak optimal meski tanaman terlihat mengalami pertumbuhan yang normal.
“Kondisi tanah yang masam juga menghambat aktivitas bakteri penambat nitrogen pada akar kedelai. Akibatnya, tanaman kekurangan nitrogen yang penting untuk pembentukan protein,” jelas Dian, dikutip dari Antaranews.
Produktivitas kedelai nasional saat ini masih tertinggal jauh dibanding dengan sejumlah negara lainnya. Perbandingan ini disebut dipengaruhi oleh karakter lingkungan Indonesia sebagai negara tropis yang kurang ideal bagi fase kritis kedelai, utamanya ketika pembungaan dan pengisian biji.
Jika di Indonesia produksi kedelainya hanya berada dalam kisaran 1,5-1,7 ton per hektare, maka beberapa negara lain yang menjadi produsen utama dunia seperti Brasil dan Amerika Serikat (AS) mencapai lebih dari 3,3 ton kedelai per hektare. (*)











Komentar