SMJTimes.com – Guna mencegah gangguan produksi akibat sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap perusahaan energi Rusia yang bernama Lukoil, Pemerintah Irak menasionalisasi (ambil alih kepemilikan aset) operasi salah satu ladang minyak terbesar di dunia, West Qurna 2.
Melansir dari SindoNews, pengambilan keputusan tersebut dilakukan setelah Dewan Kabinet Irak menyetujui pengalihan sementara pengelolaan West Qurna 2 kepada Basra Oil Company, perusahaan minyak negara selama 12 bulan.
Pada periode satu tahun itu, Pemerintah Irak akan melakukan pencarian terhadap pembeli sebanyak 75% saham Lukoil yang berada di ladang minyak strategis tersebut.
Langkah ini juga dilakukan, menyusul pada sebuah pernyataan force majeure oleh Lukoil pada November lalu, setelah Presiden AS, Donald Trump memberikan sanksi terhadap Lukoil dan perusahaan energi Rusia lainnya, yaitu Rosneft.
Diketahui West Qurna 2 memiliki peran vital bagi sektor energi Irak dengan jumlah produksinya sekitar 465.000 hingga 480.000 barel minyak per hari. Angka tersebut berhasil menjadi penyumbang sekitar 0,5% pasokan minyak global dan 9% produksi minyak Irak.
Hal ini menjadikan West Qurna 2 sebagai produsen terbesar kedua di Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) setelah Arab Saudi.
“Kami bertujuan menjaga produksi berjalan lancar saat Irak menghadapi ketidakpastian akibat sanksi AS dan akan mencari calon pembeli untuk saham Lukoil selama periode 12 bulan,” jelas pejabat Basra Oil Company, dikutip Senin (12/01/2026). (*)











Komentar