Tren Self Diagnosis Marak Terjadi, Berikut Bahayanya Menurut Ahli

Bagikan ke :

SMJTimes.com – Maraknya pembahasan seputar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) di media sosial, tak jarang banyak di antara netizen yang melakukan self diagnosis. Mereka kerap kali mengaku mengidap gejala gangguan psikologi, seperti OCD, bipolar, dan lain-lain tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dilansir dari Detik, Liza Marielly, seorang psikolog klinis mengatakan bahwa tren tersebut dapat menimbulkan pemahaman yang keliru atas proses diagnosa gangguan psikologi. Ia menyarankan untuk tidak menerima mentah-mentah setiap informasi yang didapat lewat media sosial.

“Jadikanlah itu pengetahuan, dan parameter aja,” ujarnya.

Selain itu, ia mengimbau pada masyarakat untuk datang ke ahli yang profesional apabila merasakan gejala yang mengganggu aktivitas dan interaksi sosial.

Dilansir dari laman Kemenkes, dr. Lahargo Kembaren, spesialis kejiwaan dari RS Jiwa dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor menjelaskan bahwa beberapa sumber di internet sering kali kurang akurat, serta tidak dapat dipertanggungjawabkan secara medis.

Ada beberapa alasan mengapa seseorang kerap melakukan self diagnosis, diantaranya infodemi atau banyaknya informasi dan berita di internet, rasa ingin tahu, ketakutan untuk periksa ke profesional, hingga tren. Tren sering kali dipicu akibat romantisme kesehatan jiwa, hingga timbul keinginan untuk berkompetisi siapa yang paling menderita.

“Kadang ini kayak kompetisi siapa yang paling menderita,” ujar Liza Marielly, dikutip dari Detik.

Selain itu, self diagnosis dapat menyebabkan kesalahan persepsi. Depresi tidak sama dengan sedih karena hari buruk, ADHD tidak sama dengan menjadi lebih aktif, PTSD tidak sama dengan kecewa karena suatu peristiwa, OCD tidak sama dengan keteraturan dan sesuai prosedur, bipolar tidak sesuai dengan moody-an.

Salah persepsi dapat berbahaya karena bisa menimbulkan under diagnosis, dimana penderita bisa saja mengabaikan penyakit yang sebenarnya berat, atau over diagnosis dapat memicu kepanikan. Selain itu, self diagnosis juga bisa berdampak pada penanganan yang salah.

Oleh karena itu, untuk mendiagnosa suatu gangguan psikologis dibutuhkan prosedur dan tahapan pemeriksaan yang tepat dan harus dilakukan oleh ahli/profesional. Tidak bisa hanya berdasarkan informasi dari internet. (*)

Komentar