Apa Itu ADHD? Kenali Gejala dan Penyebabnya

Bagikan ke :

SMJTimes.com – ADHD (Attention-Deficit / Hyperactivity Disorder) merupakan salah satu perkembangan saraf yang umum terjadi di usia anak-anak.

Mereka yang mengalami ADHD mengalami kesulitan memperhatikan, mengendalikan perilaku impulsif, bahkan menjadi terlalu aktif, sehingga akan menyebabkan kesulitan belajar di sekolah dan bersosialisasi dengan teman-temannya.

Dilansir dari laman Centers for Disease Control and Prevention menyebutkan bahwa gejala anak-anak dengan ADHD biasanya banyak melamun, melupakan banyak hal, sering gelisah, terlalu banyak bicara, tanpa sadar mengambil risiko dan bersikap ceroboh, sulit menahan godaan, serta sulit bergaul dengan orang lain.

Apa itu ADHD?

Terdapat tiga jenis ADHD yang muncul. Untuk membedakannya tergantung gejala yang paling kuat pada individu yang mengalami.

Tipe pertama yaitu Predominantly Inattentive Presentation. Jenis ini terjadi pada seseorang yang sulit mengatur atau menyelesaikan tugas, memperhatikan detail, mengikuti instruksi dan percakapan. Individu tersebut mudah teralihkan dan melupakan detail rutinitas sehari-hari.

Kemudian, Predominantly Hyperactive-Impulsive Presentation terjadi pada seseorang yang memiliki gejala gelisah dan banyak bicara. Mereka juga sulit duduk diam dalam waktu lama. Anak-anak dengan ADHD akan berlari, melompat, atau memanjat.

Anak dengan ADHD tipe kedua ini memiliki masalah pada respon yang impulsif. Mereka sering menyela orang lain, mengambil sesuatu dari orang lain, dan berbicara di waktu yang tidak tepat. Sulit bagi mereka menunggu giliran atau mendengarkan arahan.

Tipe terakhir adalah Combined Presentation yang memiliki gejala gabungan dari kedua jenis ADHD diatas. Karena gejala dapat berubah seiring waktu, presentasi juga dapat berubah.

Penyebab ADHD dan apa yang harus dilakukan?

Para peneliti masih mempelajari penyebab dan faktor risiko ADHD ini, serta berusaha untuk menemukan cara mengelola dan mengurangi kemungkinan ADHD. Salah satu penelitian menunjukkan bahwa genetika menjadi faktor penting. Sementara itu, penyebab lainnya termasuk kerusakan otak, paparan risiko lingkungan (misalnya timbal) selama kehamilan, penggunaan alkohol dan tembakau selama kehamilan, pengiriman premature, berat lahir rendah.

Penelitian tersebut tidak mendukung tentang penyebab ADHD karena terlalu banyak makan gula, terlalu banyak menonton televisi, pola asuh, atau faktor sosial dan lingkungan seperti kemiskinan atau kekacauan keluarga. Meski bukan dikatakan sebagai penyebab, namun hal-hal tersebut dapat memperburuk gejala.

Untuk mengetahui diagnosis yang pasti, segera konsultasikan dengan dokter. Dokter akan mengarahkan untuk melakukan serangkaian pemeriksaan, baik pemeriksaan psikologis dan fisik.

Dalam kebanyakan kasus, ADHD biasanya dirawat dengan kombinasi terapi perilaku dan pengobatan. Untuk anak usia prasekolah (usia 4-5 tahun), terapi perilaku juga dilakukan bersama pelatihan untuk orang tua.

Pola hidup sehat juga dapat memudahkan anak mengatasi gejala ADHD. Pola hidup tersebut seperti mengembangkan kebiasaan makan sehat (makan banyak buah, sayuran, biji-bijian, dan protein tanpa lemak), perbanyak aktivitas fisik, membatasi waktu bermain ponsel, nonton TV dan perangkat elektronik lainnya. Yang paling penting, pastikan penderita mendapatkan waktu tidur yang cukup. (*)

Komentar