oleh

Kurikulum Prototype Belum Diberlakukan, Dewan Pati: Kurikulum Lama Perlu Diperbaiki

Pati, SMJTimes.com – Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati, Muntamah meminta Pemerintah Kabupaten Pati mengevaluasi Kurikulum satuan pendidikan di Pati sebelum penerapan Kurikulum darurat di masa pandemi.

“Saya juga mendorong agar kurikulum segera dievaluasi, agar pendidikan karakter benar-benar bisa dilaksanakan,” ungkap Anggota Dewan dan Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu kepada SMJTimes.com.

Diketahui, Kementerian Pendidikan tahun ini mulai diwacanakan akan menerapkan tiga opsi kurikulum pilihan dalam rangka pemulihan pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Tiga kurikulum tersebut diantaranya yaitu kurikulum 2013, kurikulum darurat (kurikulum 2013 yang disederhanakan), dan kurikulum prototype.

Kurikulum Prototype Belum Diberlakukan, Dewan Pati: Kurikulum Lama Perlu Diperbaiki

Kurikulum terbaru juga nantinya akan lebih berfokus pada materi yang esensial dan tidak terlalu padat materi, seperti kurikulum terdahulu untuk percepatan pembelajaran.

Baca Juga :   Muhammadiyah Pati Dukung Penutupan Lokalisasi

Muntamah menilai, pemberlakuan kurikulum darurat di masa new normal harus segera diterapkan dalam rangka menerapkan mitigasi learning loss akibat dua tahun melakukan pembelajaran daring.  Anggota Komisi D tersebut menilai pembelajaran daring kemarin cukup memengaruhi penurunan intelegensi anak.

Kurikulum Darurat diberlakukan agar pembelajaran di masa pandemi dapat berfokus pada penguatan karakter dan kompetensi mendasar. Dengan skema tersebut, diharapkan para murid bisa mendapatkan pembelajaran sesuai bakat yang dimiliki.

“siswa belajar sesuai dengan bakat dan minat siswa tidak terbebani dengan mata pelajaran yang jumlahnya terlalu banyak,” kata Muntamah.

Kurikulum darurat atau prototype ini juga mulai diterapkan di SMK. Kurikulum ini rencananya akan diterapkan tahun 2022 hingga tahun 2024 di semua satuan pendidikan.

Baca Juga :   Bantuan untuk Petani, Asuransi Usaha Tani Padi

Saat ini kurikulum baru telah diujicobakan pada 2500-an sekolah di seluruh Indonesia, melalui Program Sekolah Penggerak. yang perlu dipahami nantinya, kurikulum prototype bersifat opsional bukan wajib. (*)

Komentar

News Feed