oleh

Mengenal dan Mengenang Soe Hok Gie

SMJTimes.com – Pada 17 Desember 1942 lahirlah sosok aktivis bernama Soe Hok Gie. Ia merupakan seorang etnis Tionghoa. Leluhurnya berasal dari provinsi Hainan, Republik Rakyat Tiongkok. Ayahnya bernama Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan.

Ia anak keempat dari lima bersaudara di keluarganya, kakaknya Arief Budiman, seorang sosiolog dan dosen di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), juga cukup kritis dan vokal dalam politik Indonesia.

Soe Hok Gie atau kerap dikenal dengan sapaan Gie merupakan pendiri organisasi mahasiswa pecinta alam (Mapala) di Universitas Indonesia (UI). Kemudian nama Mapala menjadi sebutan nama organisasi pecinta alam di seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Sebagai anggota Mapala, Gie pernah mendaki Gunung Gede hingga Gunung Salak. Selain itu, Lembah Mandalawangi di Pangrango adalah salah satu titik yang sangat disukai Gie. Ia mengabadikannya dalam banyak catatan maupun sajak.

Ia juga pernah pergi mendaki  ke Gunung Slamet (3.428 mdpl) di Jawa Tengah dan Gunung Semeru (3.676 mdpl) di Jawa Timur.

Perlu diketahui, Mapala UI berdiri ketika politik kampus 1964 mulai tidak sehat. Soe Hok Gie berinisiatif mengadakan acara nonton film dan naik gunung bersama kawan-kawan di kampusnya. Tujuannya tak lain agar tidak terjebak dalam politik kampus yang merusak hubungan pertemanan.

Baca Juga :   Peroleh Keistimewaan Malam Jumat, Berikut Doa dan Amalan yang Dianjurkan

Ketika itu, organisasi ekstra kampus berjalan dengan dinamika yang tidak sehat. Bahkan, Soe Hok Gie menolak kehadiran organisasi ekstra kemahasiswaan yang merupakan underbouw partai-partai.

Penolakan bukan tanpa sebab. Organisasi-organisasi ini selalu memperebutkan posisi di Senat Mahasiswa yang adalah organisasi intra universitas.

Banyak organisasi-organisasi mahasiswa ekstra yang bertarung di kampus. Seperti Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang dekat dengan Partai Nasional Indonesia (PNI), ada yang berbagi keagamaan macam Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Organisasi terakhir HMI yang dekat dengan Masyumi pun hampir dibubarkan Pemerintah Orde Lama.

Gie adalah saksi bagaimana HMI dan GMNI bertikai di kampus.

Di masa Orde Lama, CGMI dan GMNI adalah yang paling getol ingin menguasai kampus, sementara HMI tertekan. Setelah Orde Baru mulai berjaya HMI makin menguat. Bahkan mengambil alih Dewan Mahasiswa UI.

Baca Juga :   Jenis Makanan untuk Memenuhi Nutrisi Ibu Menyusui

Dalam film Gie (2005), tergambar bagaimana sebuah debat antar mahasiswa dengan latar belakang organisasi ekstra berbeda, bisa berlanjut pada perkelahian.

Betapa runyamnya kampus jika kepentingan organisasi ekstra dibawa masuk. Bukan rahasia lagi jika banyak pengurus BEM masa kini adalah orang-orang dari organisasi ekstra. Mereka hanya enggan mengakuinya.

 

Jelang Kematian Sang Aktivis

Kisah berlanjut pada petualangan Soe Hok Gie di pendakian Gunung tertinggi di Pulau Jawa, yakni Semeru. Sebelum berangkat ke Gunung Semeru, Soe Hok Gie sempat mengirimkan semua anggota DPR paket lipstik dan bedak.

Cara itu sebagai sindiran agar teman-teman lama aktivis kampus yang sudah jadi anggota DPR tampak cantik di mata pemerintah. Pasalnya, Gie kecewa pada teman-teman seperjuangan yang dianggap telah melupakan perjuangan, dan sindiran ini masih relevan di masa kini.

Ketika ia berjalan mendaki bersama kawannya Idhan Lubis di Puncak Semeru, saat itulah momen terakhir ia mendaki.

Gie menghirup gas beracun dan tutup usia jelang sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Tanggal 16 Desember 1969 merupakan hari tewasnya sang aktivis.

Baca Juga :   Tips Lancarkan Siklus Haid, Konsumsi Makanan Berikut

Seorang Soe Hok Gie bukan tewas di pendakian karena menjadi korban pendidikan dari senior. Ia adalah manusia tak menyukai acara ospek, atau perpeloncoan yang mengagungkan senioritas. Gie adalah manusia merdeka dengan pemikiran bebas.

Bagi Gie, gunung bukan sekedar pelepas stres. Gunung adalah tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan hati seseorang.

Soe Hok Gie pernah menulis dalam buku hariannya:

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tetapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

 

 

 

 

Artikel ini telah tayang di tirto.id dengan judul “Mati Muda Soe Hok Gie di Tanah Tertinggi Pulau Jawa.”

Komentar

News Feed