oleh

Kasus Stunting di Rembang Melonjak Selama Pandemi

Rembang, SMJTimes.com – Wabah covid-19 menyebabkan kasus stunting meningkat. Kejadian ini diperkuat berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas).

Tahun 2013 kasus stunting disebutkan sebesar 32 persen dari jumlah anak lahir, tahun 2018 menurun menjadi 26 persen, di tahun 2019 menurun menjadi 22,9 persen, di tahun 2020 meningkat menjadi 24,97 persen.

Rentetan data itulah yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang, Ali Syofi’i dalam kegiatan Rembuk Stunting strategi pencegahan dan penanggulangan stunting, di lantai 4 Kantor Bupati Rembang, (10/6/2021).

Ali Syofi’i mengatakan permasalahan-permasalahan yang memicu kenaikan stunting diantaranya adanya pandemi Covid-19.

“Situasi pandemi layanan yang membutuhkan posyandu harus dirapid test, sehingga angka partisipasinya di angka 50%. Kemudian variasi disparitas yang tinggi antara puskesmas satu dengan yang lain, belum semua instansi nasional dan swasta ini mempunyai ruang untuk menyusui, pernikahan usia muda masih banyak terjadi, pola asah asih asuh belum optimal,” imbuhnya

Baca Juga :   Pemkab Rembang Adakan Kegiatan Tahtimul Qur'an

Upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemkab Rembang untuk menekan tingginya kasus stunting yaitu pelayanan Antenatal Care (ANC) yang semula 4 kali menjadi 6 kali pemeriksaan ibu hamil, membagi dokter ahli menjadi dokter binaan kecamatan dan perbaikan akses sanitasi dengan air bersih.

Selain itu upaya yang dilakukan oleh Pemkab Rembang untuk menekan stunting menurut Ali Syofi’i yaitu membuat lokus desa stunting di Kabupaten Rembang di 27 Desa tersebar di 10 Kecamatan meliputi 11 puskesmas.

Sementara itu Bupati Rembang H.Abdul Hafidz menuturkan perlu dukungan banyak pihak untuk mengatasi stunting, tidak bisa dibebankan kepada Dinas Kesehatan saja.

Komentar