oleh

Angka Stunting di Pati Turun Menjadi 4,8 Persen

Pati, Smjtimes.com – Sebanyak 12 desa di Pati menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati dalam penanggulangan penyakit stunting. Hal ini dikarenakan ke-12 desa yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Pati ini dalam beberapa tahun terakhir mempunyai angka stunting yang tinggi.

Bupati Kabupaten Pati Haryanto mengatakan dari tahun 2018 setidaknya ada 12 desa yang menjadi locus stunting. Namun saat ini ada penurunan angka stunting di berbagai desa tersebut.

“Diantaranya Desa Bogotanjung yang awalnya angkanya di kisaran 40,52 persen turun menjadi 11,88 persen, Mulyoharjo dari 39,82 menjadi 2,71 persen, Langgenharjo 47,84 manjadi 8,06,” jelas Haryanto dalam acara penandatangan komitmen bersama penurunan stunting di Pendopo Kabupaten Pati, Rabu (15/7/2020).

Baca juga: Persiapan Pengelola Pantai Karang Jahe untuk Dapat Kantongi Surat Rekomendasi Buka

Karena adanya penurunan di sejumlah desa yang menjadi locus, angka stunting di Kabupaten Pati pun ikut turun. “Kita (dulu) dinyatakan ada 38,5 persen (angka stunting) dan Alhamdulillah, hasil yang kita temukan pada saat ini sudah mengalami penurunan sampai dengan 4,8 persen,” lanjut Haryanto.

Meskipun mengalami penurunan, pihaknya berkomitmen terus melakukan langkah-langkah agar angka penyakit yang mengakibatkan pengerdilan tubuh anak atau tumbuh kembang anak ini semakin menurun dan nol di Kabupaten Pati.

“Kalau berhenti di sini nanti (dikhawatirkan) yang menjadi sasaran selesai, tapi muncul kasus baru. Maka kita tetap memerintah desa-desa mengalokasikan sebagian anggaran dana desa untuk penanganan stunting. Sekalipun di desa itu tidak ada kasus, dengan harapan masyarakatnya terjamin kesehatnnya,” tuturnya.

Baca juga: Memastikan Kalster Baru di Kantor Dewan, Gugus Tugas Menunggu Hasil Tes Swab

Ia pun memberi perhatian kepada ibu-ibu hamil. Hal ini dikarenakan penyakit ini berawal dari asupan gizi untuk anak saat di dalam kandungan rendah.

“Awalnya kan dari ibu hamil itu. Asupan gizinya kurang, kemudian setelah lahir juga tidak ditangani dengan baik, kemudian, sanitasi, kebersihan, air dan lain-lain akhirnya terdampak. Maka dari itu perlu adanya kebersamaan agar penyakit ini tidak muncul di Kabupaten Pati,” pungkasnya. (*)

Baca juga: Persiapan Musim Kemarau, BPBD Pati Siapkan 2.072 Tangki Air Bersih

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *