SMJTimes.com – Salah satu pendiri Google, Sergey Brin mengakui bahwa percepatan inovasi pada teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat keputusan pensiun dini menjadi tidak relevan lagi.
Oleh sebab itu, Sergey kini tercatat kembali aktif menangani pengembangan AI di perusahaan induk (holding company) multinasional yang menaungi Google, Alphabet Inc., setelah sebelumnya sempat memutuskan pensiun dari operasional harian perusahaan.
Keputusan ini diambil di tengah kedudukan Sergey sebagai pendiri Google yang kini menjadi orang terkaya ketiga di dunia dengan jumlah kekayaan mencapai 253,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara dengan Rp4.273 triliun.
Dalam pembicaraannya di Universitas Standford, Sergey mengaku sempat kehilangan arah dengan mentalnya yang semakin tumpul setelah meninggalkan pekerjaan teknisnya sekitar satu bulan sebelum pandemi COVID-19, membawa rencananya untuk mempelajari fisika.
Kini ketika Alphabet Inc. mulai membuka kantornya secara terbatas, Sergey hadir kembali dan akhirnya memilih terlibat dalam pengembangan model Gemini AI. Pilihannya ini disebut sangat memuaskan bagi dirinya.
Melansir dari CNBC Indonesia, Sergey menjelaskan evaluasinya terhadap perjalanan investasi AI dalam Google yang disebut kurang agresif setelah proses perilisan riset Transformer pada 2017 lalu. Padahal, riset tersebut kini berhasil menjadi fondasi model bahasa besar di berbagai perusahaan.
Sikap kehati-hatian perihal akurasi yang memperlambat peluncuran chatbot terlihat seperti perlombaan, ketika pesaing OpenAI bergerak lebih cepat hingga memicu adopsi AI generatif secara luas.
Meski begitu, Google dinilai tetap unggul berkat investasi jangka panjangnya yang dilakukan dalam riset jaringan saraf, chip khusus, serta pusat data berskala global. Karena hanya sedikit perusahaan yang dapat mengoperasikan seluruh rantai teknologi AI, mulai dari riset hingga infrastruktur komputasi. (*)











Komentar