SMJTimes.com – Dua Senator Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Arya Weda Karna (AWK) dan Niluh Djelantik, disebut tengah memperdebatkan kebiasaan yang dilakukan antara wisatawan lokal dengan mancanegara ketika melakukan kunjungan ke Pulau Bali.
Sebelumnya, AWK dalam akun media sosial Instagram pribadinya menyebut terkait dengan kebiasaan sebagian wisatawan lokal yang dinilai belum terbiasa memberikan tip bagi pekerja pariwisata, khususnya yang ada di Pulau Bali.
Padahal menurutnya, pemberian tip bagi pekerja pariwisata menjadi salah satu bentuk apresiasi yang lazim dilakukan wisatawan di sejumlah negara, termasuk ketika mendapatkan pelayanan dari pramusaji restoran maupun pekerja hotel.
“Dan satu mungkin introspeksi untuk turis-turis lokal, biasakan kalau datang ke tempat wisata itu apa ada yang namanya etika. Pertama itu kayak memberikan tips gitu loh,” ujar AWK dari Instagram pribadinya, dikutip dari Tribun News.
“Nah kalau bule-bule itu mereka udah biasa memberikan tips, mungkin itu penyebab secara psikologi orang-orang lokal di Bali ini mungkin lebih exciting lebih melayani bule,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Niluh Djelantik justru buka suara dengan memberikan perspektif lain, bahwa anggapan turis mancanegara atau bule yang selalu royal memperikan tip kepada pekerja pariwisata tidak sepenuhnya tepat.
Menurut Niluh, sebagian wisatawan mancanegara bahkan memiliki kebiasaan dengan melakukan penawaran harga saat berbelanja di Pulau Bali. Hal ini disebut berdasar pada pengalamannya ketika mengetahui bule sempat menawar kerupuk yang dijual Rp10 ribu menjadi hanya Rp2 ribu.
“Bule tamu royal? Gak semua. Jangan salah, gaya nawar mereka kadang enggak ngotak,” kata Niluh.
“Kerupuk di Bedugul saja mereka makan dulu baru ditawar padahal yang jual seorang perempuan sepuh usia 80 tahun dan harga kerupuk hanya Rp10 ribu ditawar Rp2 ribu,” lanjutnya.
Oleh sebab itu, Niluh menegaskan bahwa perlakukan terhadap wisatawan seharusnya tidak boleh dibedakan berdasar pada kewarganegaraan maupun jumlah uang yang dibawa.
“Mau bawa uang sedikit mau banyak, tetap hormati. Mau WNI (Warga Negara Indonesia) mau WNA (Warga Negara Asing) perlakukan sama terhormatnya,” ucapnya.
“Kecuali jika martabat kita direndahkan, budaya kita dilecehkan, tindak tegas, pekerjaan warga lokal diambil tanpa izin. Itu yang musti ditindak tegas,” pungkasnya tegas. (*)







Komentar