SMJTimes.com – Sejumlah penderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) seringkali memiliki perasaan ragu ketika hendak menjalani diet demi menurunkan berat badan.
Hal tersebut dikarenakan metode diet sering dianggap mampu membuat asam lambung melonjak atau bahkan menjadi pemicu munculnya rasa terbakar di dada (heartburn). Lantas, bagaimana caranya agar penderita GERD tetap bisa melaksanakan diet?
Sementara, GERD merupakan sebuah kondisi kronis di mana asam lambung dan isi perut naik kembali secara berulang ke dalam kerongkongan, yang terjadi karena lemah atau tidak berfungsinya katup bagian bawah yang harusnya menutup rapat setelah makanan masuk ke lambung.
Dalam hal ini, seorang ahli spesialis gizi klinik, Igus Ulfa Yaze, menyebut terkait dengan orang dengan penyakit GERD yang ternyata sebenarnya tetap bisa mengatur pola makan untuk tujuan diet, asal metode yang dilakukan tidak boleh sembarangan.
Menurutnya, penderita GERD tidak boleh menjalani diet dengan metode ekstrem seperti intermittent fasting (puasa dengan skala waktu) yang membiarkan perut kosong dalam durasi yang panjang. Namun, Yaze menyarankan penderita GERD untuk hanya mengubah frekuensi makan.
“Kalau GERD itu artinya kamu makan jadi lebih banyak jamnya. Misalnya nih, sedikit-sedikit tapi sering,” jelas Yaze, dikutip dari Detik Health, Selasa (01/09/2026).
“Nggak boleh telat makan siang, habis itu ada camilan sore. Makan malam juga nggak boleh terlambat,” lanjutnya.
Pada penjelasannya, Yaze juga merincikan jadwal makan ideal yang teratur bagi penderita GERD untuk tetap dapat melaksanakan diet, seperti berikut:
- Pagi: Wajib sarapan,
- Camilan pagi: Mengonsumsi kudapan sehat (sekitar pukul 10.00 WIB),
- Makan siang: Idealnya sekitar pukul 13.00 WIB, tidak boleh terlambat,
- Camilan sore: Makanan ringan (sekitar pukul 16.00 WIB),
- Makan malam: Tepat waktu dengan maksimal pukul 18.00-19.00 WIB.
(*)











Komentar