SMJTimes.com – Sebanyak 2.000 hingga 3.000 migran ilegal dari Maroko dilaporkan melakukan penerobosan ke wilayah Ceuta, Spanyol, Kamis (30/07/2026).
Bahkan, mereka juga berenang dan mengapung di atas ban, sementara yang lainnya menerobos gerbang di darat demi masuk kota.
Untuk menangani fenomena tersebut, Spanyol mengerahkan militernya demi menguatkan polisi yang ada di wilayah yang berbatasan langsung dengan Maroko.
Selain itu, pihak berwenang juga mengupayakan penutupan wilayah kantong Spanyol lainnya yang ada di dekat Ceuta.
Berdasar keterangan dari sejumlah saksi mata, di sebuah Kota Fnideq, Maroko, yang berbatasan langsung dengan Ceuta, Spanyol, terlihat adanya aksi penembakan Meriam air kea rah para migran untuk mencegah mereka melakukan penyeberangan.
“Ini sangat sulit. Polisi mencoba menghentikan kami. Tetapi kemauan dan tekad kami memungkinkan kami untuk datang ke sini,” ujar seorang migran bernama Jadid Zacaria dengan kondisi rambut dan bajunya yang basah karena air laut, dikutip dari Detik, Sabtu (01/08/2026).
Salah satu anggota Asosiasi Hak Asasi Manusia Maroko, Omar Naji, mengatakan bahwa setidaknya terdapat tiga kendaraan yang dibakar, serta sejumlah korban luka-luka yang terdiri dari para migran maupun petugas keamanan.
Kemudian, terdapat pula sejumlah sembilan jenazah yang ditemukan di Kota Ceuta.
Laporan tersebut menambah adanya jumlah korban jiwa menjadi sebanyak 60 migran yang tewas dalam masa penyeberangan ke wilayah tersebut sepanjang beberapa bulan terakhir. (*)





Komentar