SMJTimes.com – Dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat, Bulan Suro yang ada di kalender Jawa mampu menarik perhatian untuk dijadikan sebagai perbincangan publik, salah satunya adalah tentang weton tulang wangi.
Pada penjelasan ini, sebutan tulang wangi merupakan sebuah kelompok weton yang dalam tradisi Kejawen telah dipercaya memiliki aura spiritual kuat dan kepekaan batin yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis weton lainnya.
Melansir dari Kompastv, keyakinan terkait dengan weton tulang wangi tersebut menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa yang berkaitan dengan pergantian tahun Jawa atau 1 Suro.
Bagi budaya Jawa, manusia dipandang sebagai bagian dari alam semesta yang mengalami keterikatan dengan siklus waktu. Hal tersebut membuat setiap weton diyakini memiliki karakteristik dan pengaruh tersendiri terhadap perjalanan hidup seseorang.
Berdasarkan tradisi Kejawen, 11 weton yang dipercaya masuk dalam kategori tulang wangi, di antaranya Senin Kliwon, Senin Wage, Senin Pahing, Selasa Legi, Rabu Kliwon, Rabu Pahing, Kamis Wage, Sabtu Wage, Sabtu Legi, Minggu Pon, dan Minggu Kliwon.
Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, manusia yang terlahir dengan weton tulang wangi diyakini dapat memiliki intuisi yang tajam, kepekaan batin yang tinggi, serta aura yang kuat.
Hal itulah yang membuatnya disebut sebagai “wangi”, karena dipercaya mampu menarik sejumlah energi nonfisik yang ada di sekitarnya. Hal yang sama juga membuat weton tulang wangi sering dikaitkan dengan berbagai tradisi spiritual yang dilakukan pada Bulan Suro.
Sementara itu, Bulan Suro sebagai yang pertama di kalender Jawa dianggap menjadi waktu yang sakral dan identik dengan laku tirakat, introspeksi diri, serta doa untuk memohon keselamatan.
Meski demikian, weton tulang wangi pada dasarnya menjadi bagian dari warisan budaya dan kearifan lokal masyarakat Jawa, dengan makna hubungan antara manusia, waktu, dan alam semesta sebagai bagian dari kehidupan yang saling terhubung. (*)











Komentar