SMJTimes.com – Dalam 15 tahun terakhir, perekonomian Negara Filipina masih mencatatkan adanya pertumbuhan yang semakin melemah.
Hal ini terlihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang hanya tumbuh sebesar 4,4% pada 2025, jauh di bawah ekspektasi pemerintah. Sejak 2011, pencapaian tersebut menjadi kinerja yang terburuk di luar periode Pandemi COVID-19.
Melansir dari CNBC Indonesia, capaian ini meleset dari proyeksi resmi Pemerintah Filipina yang sebelumnya memberi patokan pada kisaran sebesar 5,5-6,5%. Bahkan, patokan tersebut telah direvisi dengan mempertimbangkan dampak tarif Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ketidakpastian global.
Pelemahan ekonomi juga terlihat pada kuartal IV yang menunjukkan adanya pelambatan pertumbuhan secara tajam menjadi 3,0%, turun dari 5,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut menjadikannya sebagai kuartal kedua secara berturut-turut yang pertumbuhan ekonominya gagal memenuhi target pemerintah.
Menurut Sekretaris Perencanaan Ekonomi Filipina, Arsenio Balisacan, gangguan cuaca ekstrem akibat adanya perubahan iklim menjadi salah satu faktor utama perlambatan ekonomi, karena menghentikan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Gangguan terkait cuaca dan iklim telah berdampak signifikan, mulai dari hilangnya hari kerja hingga penutupan sekolah, yang pada akhirnya menekan permintaan domestik,” jelas Balisacan, dikutip Jumat (30/01/2026).
Kemudian, sebuah skandal korupsi besar yang melibatkan proyek infrastruktur fiktif juga disebut turut membebani kinerja ekonomi jangka pendek, lantaran ramai setelah disoroti oleh Presiden Ferdinand Marcos dalam pidato kenegaraannya pada Juli lalu.
“Penyelidikan skandal korupsi proyek pengendalian banjir juga membebani kepercayaan dunia usaha dan konsumen,” ucapnya. (*)







Komentar