SMJTimes.com – Pada masa kepemimpinannya, tepatnya tahun 1986, Presiden Republik Indonesia (RI) ke-2, Soeharto, meminta masyarakat untuk hidup hemat dan sederhana guna menjaga stabilitas di tengah ekonomi negara yang sedang berada dalam tekanan.
“Pola-pola hidup sederhana itu bukan saja tertuju kepada pejabat pemerintah. Masyarakat luas, terutama kaum yang berada juga mempunyai kewajiban moral dan moril untuk meresapi dan menghayati pola hidup sederhana itu,” jelas Soeharto.
Kala itu, harga minyak global tercatat mengalami penurunan tajam, perlambatan ekonomi dunia, hingga tekanan dari harga komoditas. Hal tersebut berdampak secara langsung bagi RI yang masih sangat bergantung pada sektor minyak dan gas (migas).
Padahal sebelumnya, RI sedang menikmati lonjakan pendapatan di awal 1980-an berkat adanya ekspor minyak sekaligus berbarengan dengan meroketnya harga minyak dunia. Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama dan kondisi berbalik secara drastis di tahun 1986.
Melansir dari CNBC Indonesia, Sejarawan Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam buku berjudul Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012) menyebut bahwa kondisi tersebut membuat ekonomi RI terpukul.
“Pertumbuhan melamban, perdagangan dan investasi menurun tajam, utang meningkat dan pemerintah menghadapi tantangan fiskal yang besar karena jatuhnya pendapatan minyak,” berikut bunyi dalam tulisan tersebut.
Meski demikian, seorang Filsuf Franz Magnis-Suseno menganggap bahwa imbauan hidup hemat justru tidak tepat sasaran. Pasalnya, kecenderungan hidup mewah banyak terjadi di kalangan pejabat seperti maraknya seminar dan acara yang lebih sering dilakukan di hotel.
Sejarawan Ong Hok Ham juga berpendapat yang sama, bahwa pengurangan pola hidup konsumtif hanya dapat dilakukan melalui pengawasan ketat lantaran kebutuhan menjaga relasi dalam praktik sosial yang sulit untuk dihindari.
Pada akhirnya, imbauan hidup sederhana terbukti tidak efektif. Justru, rangkaian deregulasi lebih terbukti mampu menahan guncangan ekonomi, hingga pada akhir menjelang dekade 1980-an, perekonomian Indonesia mulai stabil dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 5,5%. (*)





Komentar