SMJTimes.com – Di sejumlah kasus kekerasan, sering kali ditemukan pihak yang memilih merekam peristiwa tersebut dibanding melerai pihak yang terlibat.
Hal ini memang bukan perilaku yang lazim, namun ada beberapa anak muda yang lebih suka menjadi penonton (bystander) dan perekam saat terjadi kekerasan atau perundungan di depan mereka.
Fenomena ini tentunya menjadi perhatian bagi ahli kesehatan mental.
Dikutip dari Kompas, sejumlah pakar kesehatan mental mengatakan kecenderungan ini merupakan masalah baru, namun sebenarnya sangat berdampak pada kesehatan mental anak.
Dr. Victor Fornari yang merupakan seorang ahli psikologi anak dan remaja di Northwell Health, New York, AS mengatakan bahwa fenomena ini mulai terjadi di masa perkembangan teknologi, seperti smartphone.
Di Amerika Serikat dan Kanada, kasus seperti ini juga terjadi di kalangan anak muda. Fornari menuturkan bahwa tindakan ini dipicu karena adanya keinginan perhatian terkait popularitas posting-an
“Mereka ingin tahu berapa banyak popularitas yang mereka dapatkan. Berapa banyak orang yang melihatnya,” jelasnya.
Kendati demikian, ia juga mengatakan bahwa pemikiran seperti ini nantinya akan berdampak pada mental. Keinginan untuk selalu menjadi pusat perhatian dapat memicu gangguan stres, PTSD, dan perkembangan kecemasan, depresi, dan penyalahgunaan zat di masa depan.
Selain itu, video kekerasan akan mempengaruhi kondisi mental orang yang menontonnya.
“Menyaksikan dan menonton kekerasan online semacam ini dapat membekas dalam pikiran mereka dan menyebabkan gangguan yang signifikan pada bulan-bulan setelah peristiwa tersebut dan sepanjang hidup,” terangnya.
Dr. Linda Charmaraman, Direktur Youth, Media and Wellbeing Research Lab di Wellesley College, Massachusetts mengatakan bahwa remaja seringkali tidak mengetahui tentang mana hal yang benar untuk dilakukan.
Hal ini menyebabkan mereka lebih memilih merekam aksi kekerasan, bukann memberikan bantuan. Charmaraman menyebutkan bahwa hal ini disebabkan karena otak remaja masih berkembang.
Mereka mungkin tidak mengerti tindakan yang terjadi itu nyata dan akan berdampak ke depannya.
“Orang-orang menjadi kurang peka,” ujar Charmaraman.
Ia menambahkan, alasan beberapa orang secara naluriah merekam karena rasa takut akan bahaya pribadi dan pembalasan dari pihak lain jika ikut campur di dalamnya.(*)




Komentar