oleh

Menilik Cerita Petani Bonsai Asal Pati

Pati, SMJTimes.com – Pohon-pohon bonsai itu sesak di depan pelataran rumah Muttaqin. Berdiri di atas vas, batu hingga tanah. Berdampingan satu sama lain, seolah-olah menyihir siapa saja yang mengunjungi tempat itu seperti berdarmawisata ke taman kecil, di depan kekaisaran Jepang.

Pohon-pohon yang terletak di depan pondokan Muttaqin Desa Sidomulyo Kecamatan Gunungwungkal, telah hijrah jauh dari tempatnya. Mereka telah dibawa Muttaqin menyeberang lautan hanya untuk ia rawat dan dijual kembali kelak. Katanya Pohon-pohon kerdil itu dari Hongkong, Jepang bahkan dari dataran China.

Muttaqin sengaja menaruhnya di sana, di kampung halamannya yang berada di lereng Muria. Kelak ia akan membuat jauh lebih mahal dari yang ia beli sekarang. Ia akan memotong ranting dan dedaunanya, membentuk ranting pohon itu seolah lengan yang menari bahkan atau rambut tergerai dari seorang gadis.

Baca Juga :   Kasus Covid-19 Melonjak, 2 Ribu Lebih Warga Pati Isolasi Mandiri

Begitulah Muttaqin menjelaskan ke kami tentang pekerjaan sampingannya. Selain sebagai pemuda yang lekat julukan dengan pendiri olahan kopi khas Pati, ia juga dikenal sebagai petani bahkan tukang bengkel bagi bonsai-bonsai yang ada di rumahnya.

Muttaqin sendiri menjelaskan hampir telah merawat pohon-pohon di halaman rumahnya sudah jalan sekitar 12 tahun silam. Saat ia telah memutuskan untuk tidak lagi mengambil bakalan bonsai dari alam liar dengan cara menggali. Baginya kegiatan tersebut dapat merusak alam dan bakalan bonsai pun terhitung murah.

“Kalau saya sendiri jadi petani bonsai, saya tidak mengambil dari alam. Karena gini, banyak kesalahan pembonsai itu, mau diakui atau tidak diakui merusak alam. Makanya sejak 2010 saya mencoba menghindari hal itu, dengan cara budidaya, di lahan sendiri,” katanya.

Baca Juga :   Pedagang Keluhkan Bantuan Covid-19 Kurang Tepat Sasaran

Alhasil, kini bakalan bonsai miliknya hampir menyentuh angka seribu pohon. Dan sebagian besar adalah tanaman dari manca negara. Alasan hargalah yang membuat Muttaqin mendatangkan tanaman tersebut dari belahan dunia. Mulai dari tanaman Sakura, Lohansun, hingga Seribu Bintang kini menghiasi rumahnya.

“Alasan tanaman impor, kembali ke bisnis ya, kalau kita jual dari tanaman sekitar kita itu mau jual mahal susah. Orang selalu mikir, daripada beli mendingan cari sendiri. Kalau impor mau tidak mau harus beli,” ungkapnya.

Dari kegiatannya bertani bonsai, ia dapat mengeruk sejumlah pundi-pundi rupiah. Dalam penjelasan Muttaqin, dalam proses sebagai bakalan bonsai saja, daya jualnya sudah mencapai Rp25 juta. Belum lagi ditambah pekerjaannya sebagai teknisi bonsai. Dalam satu hari, ia dapat mengantongi satu juta rupiah.

Baca Juga :   Realisasi Perolehan PBB Pati Capai 98,4 Persen

“Dalam industri bonsai salah satunya profesi yaitu seorang trainer, di industri bonsai sebagai teknisi, kalau di dunia otomotif si tukang bengkel. Gajinya mahal. 2008-2012 saya jadi trainer nasional. Mulai dari Bali, Jawa Timur hingga Jakarta gajiku sehari Rp1 juta. Cuma nyekeli gunting, reposisi, ngawati,” tutupnya. (*)

 

Artikel ini telah tayang di Mitrapost.com dengan judul “Kisah Petani Bonsai dari Lereng Muria”

Komentar

News Feed