SMJTimes.com – Viral di media sosial, seorang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ada di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatra Utara (Sumut), berinisial FP, dilaporkan mengalami gangguan ingatan usai diduga keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebelumnya, siswa tersebut sempat menjalani serangkaian pemeriksaan di sejumlah fasilitas kesehatan, hingga akhirnya ditangani di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Adam Malik, Kota Medan, Sumatera Utara.
Melansir dari Detik Health, seorang praktisi kesehatan anak, Damayanti Rusli Sjarif, menjelaskan terkait dengan proses keracunan makanan yang disebabkan oleh pencemaran bakteri umumnya memiliki bentuk respons tubuh yang cukup spesifik.
Dalam hal ini, di antara respon tubuh tersebut meliputi gejala saluran pencernaan atau gastrointestinal, di mana organ tubuh secara alami akan berusaha melakukan pengeluaran racun yang ada di dalam tubuh tersebut.
“Kebanyakan kasus karena keracunan, reaksi tubuh adalah mengeluarkan lewat muntah atau diare. Itu prinsip dasarnya. Ada kuman masuk, dia keluarkan dengan badan itu mempunyai pertahanan,” jelas Damayanti.
“Dia dikeluarkan lewat muntah, lewat diare. Nah, kalau dia sampai ada gejala yang lain, itu misalnya demam. Paling tinggi demam, kemudian sakit kepala,” tambahnya, dikutip Sabtu (12/09/2026).
Sementara itu terkait dengan kemungkinan adanya kejang hingga hilang ingatan akibat dari keracunan bakteri dari makanan, Damayanti menilai terkait dengan sejumlah kemungkinan yang perlu dilakukan perhitungan.
“Rasanya sih dari kuman-kuman yang ada di laporan, kayak nggak ada yang seperti itu. Nah, mungkin ada sebab lain yang kita belum tahu,” ujarnya.
“Tapi sepanjang saya tahu, tidak ada keracunan yang tiba-tiba bikin kejang-kejang. Itu sejauh ini ya, kalau bakteri nggak bikin kejang-kejang. Kecuali ada keracunan zat kimia atau apa yang saya tahu, nah itu mungkin yang bisa dijelaskan,” lanjutnya.
Kemudian, pihaknya menyebut adanya kemungkinan lain selain dari keracunan makanan yang menjadi pemicu munculnya gangguan ingatan, seperti penyakit lama yang belum terdeteksi.
“Bisa saja, semuanya bisa. Tapi kalau sampai kejang, itu rasanya nggak mungkin hanya masalah karena kumannya. Mungkin ada sebab lain. Ada penyakit dasar yang mempengaruhi sehingga gejalanya seperti itu,” katanya. (*)











Komentar