SMJTimes.com – Seorang produser bernama Gita Fara, mengakui sejumlah hal yang dijadikan sebagai pertimbangan sepanjang melakukan adaptasi hingga perencanaan terkait dengan film terbaru garapan sutradara Yosep Anggi Noen, berjudul Laut Bercerita.
Dalam hal ini, sejumlah pertimbangan tersebut muncul lantaran film Laut Bercerita yang merupakan hasil adaptasi novel karya Leila S. Chudori itu mengangkat isu sensitif seputar penculikan hingga penghilangan paksa para aktivis menjelang masa Reformasi Indonesia tahun 1998.
Menurut Produser Gita, seluruh tim yang ada di belakang layar sejak proses produksi telah melakukan pertimbangan sensitivitas isu tersebut, demi memastikan tidak adanya gangguan ketika penayangan Laut Bercerita.
Sehingga nantinya, film Laut Bercerita tetap akan mendapatkan jadwal tayang reguler layaknya film komersial pada umumnya.
“Meskipun ini historical piece, tapi kami tetap akan mendistribusikannya dengan cara distribusi secara umum yaitu akan theatrical release gitu di chain-chain sinema di seluruh Indonesia,” jelas Produser Gita di Jakarta Selatan, dikutip dari CNN Indonesia.
“Karena harapannya, tentunya film ini bisa menjadi jendela ke masa itu yang juga bisa menjadi selain pembelajaran juga menjadi inspirasi untuk anak-anak muda bagaimana untuk bermimpi dan juga bergerak yang terbaik untuk tanah airnya,” lanjutnya.
Selain Gita, kekhawatiran terkait dengan adanya potensi gangguan teknis maupun tekanan politik juga diungkap oleh Produser Eksekutif, Arif Zulkifli, selama masa syuting berlangsung.
Pada penjelasannya, sejumlah adegan yang menampilkan perlawanan terhadap pemerintah hingga situasi politik di masa tersebut, setiap rinciannya dipastikan tidak dapat dijadikan sebagai hambatan sepanjang proses produksi.
“Tentu kami sempat mikir-mikir juga apakah akan ada gangguan misalnya pada saat syuting-syuting tertentu, demo misalnya pada waktu itu, ada antisipasi sedikit-sedikit gitu tapi kenyataannya juga enggak gitu,” ujar Arif. (*)


Komentar