SMJTimes.com – Film fantasi garapan sutradara kondang Christopher Nolan, The Odyssey, menjadi sebuah tayangan yang berhasil menarik perhatian sejumlah pecinta film di pertengahan tahun 2026, lantaran pencapaiannya sebesar 263,7 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp4,71 triliun.
Namun di tengah pencapaian tersebut, perhatian film The Odyssey justru terarah pada respons publik Yunani sebagai pemilik asal legenda terbesar yang dikaitkan dengan penyair Homer, yang telah diajarkan di sekolah sekolah mereka selama hampir 3.000 tahun.
Dalam hal ini, masyarakat Yunani pada umumnya justru memandang karya epic Homer sepanjang ribuan tahun bukan terletak pada penolakan perubahan, di tengah perdebatan warganet dari sejumlah negara yang menuntut pada kesetiaan mutlak oleh teks aslinya.
Melansir dari CNN Indonesia, seorang pengajar The Odyssey yang bernama Filippos Mantzaris, yang mengajar siswa tingkat sekolah menengah di Yunani, menjelaskan bahwa setiap rekreasi baru merupakan sebuah karya seni yang mandiri.
Sejumlah siswa di setiap ruang kelas, mereka terbiasa berdiskusi secara kritis mengenai dilema moral tokoh Odysseus terkait dengan perbandingan antara kecerdasan dan kekuatannya, hingga mempertanyakan aspek keadilan dalam tindakan sang raja.
Bahkan, pendekatan tersebut juga diikuti oleh sejumlah orang tua dan praktisi teater di Yunani, di mana mereka menampilkan kisah mitologi melalui media panggung hingga layar lebar, untuk membantu generasi muda mempelajari sejarah secara sukarela tanpa merasa terbebani.
“Itu (The Odyssey) merupakan teks sastra luar biasa yang bisa diketahui anak-anak, mungkin melihat Odysseus dalam diri mereka sendiri, tapi juga melihat tanah air mereka,” ujar Filippos Mantzaris, dikutip Rabu (22/07/2026). (*)











Komentar