SMJTimes.com – Sebuah tren memisahkan diri dari dunia nyata pertama kali diidentifikasi oleh negara Jepang dengan menyebutnya sebagai fenomena hikikomori. Kini, psikolog dan sosiolog dunia menyebut fenomena tersebut telah muncul di berbagai negara, utamanya sejak masa pandemi.
Melansir dari National Geographic, salah satu negara yang ditemukan adanya fenomena hikikomori adalah Indonesia, melalui sebuah makalah studi yang ditulis oleh dua peneliti dari Departemen Psikiatri, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Dalam makal yang bertajuk “Hikikomori Phenomenon in a Cultural Context: A Case Study on Extreme Social Isolation in Indonesia” itu, peneliti menyoroti kasus pemuda Jakarta berusia 22 tahun yang secara bertahap telah menarik diri selama 18 bulan, setelah melakukan pelatihan vokasinya.
“Ia menghabiskan hampir seluruh waktunya terkurung di kamarnya, dengan komunikasi minimal, bahkan untuk kebutuhan dasar, dan sepenuhnya bergantung pada orang tuanya untuk dukungan,” demikian pemaparan peneliti dalam makalah studi tersebut.
Meski sebelumnya tidak ditemukan riwayat kesehatan mental, tapi peneliti tersebut menyebut adanya pengurungan yang berkepanjangan, kurangnya keterlibatan sosial, hingga suasana hati yang buruk pada pemuda itu menunjukkan diagnosis hikikomori.
“Hikikomori bukan lagi hanya masalah Jepang; ini telah menjadi tantangan global, dengan meningkatnya kasus di negara-negara seperti Indonesia,” pernyataan kesimpulan dari para peneliti tersebut.
Menurut peneliti, sejumlah kasus di Jakarta akhir-akhir ini menyoroti tentang bagaimana tekanan sosial, keuangan yang tidak stabil, hingga waktu penggunaan layar yang berlebihan, telah berhasil menyebabkan kaum muda menarik diri dari dunia. (*)






Komentar