SMJTimes.com – Fenomena krisis populasi yang ada di Korea Selatan mengakibatkan adanya penyusutan jumlah mahasiswa hingga diperkirakan akan memaksa puluhan universitas untuk menghentikan operasinya dalam beberapa waktu ke depan, utamanya di luar wilayah metropolitan.
Melansir dari CNBC Indonesia, Data Kementerian Pendidikan Korea Selatan menunjukkan bahwa hanya sekitar 298.178 siswa kelas satu yang diperkirakan mendaftar untuk tahun ajaran baru yang sebentar lagi akan dimulai pada Maret 2026.
Perkiraan jumlah yang mengalami penurunan hingga sebesar 44% dibandingkan dengan tahun 2022 ini tercatat sebagai yang pertama kalinya berada di bawah 300.000 sejak pencatatan dilakukan.
Bahkan, angka ini jauh di bawah kebutuhan setiap universitas yaitu sekitar setengah juta mahasiswa baru per tahun, guna menjaga keberlangsungan perguruan tinggi sepanjang dua hingga empat tahun di negara tersebut.
Kondisi ini diperkuat atas hasil survei Dewan Pendidikan Universitas Korea yang menunjukkan lebih dari 60% responden memperkirakan lebih dari 30 universitas dapat tutup dalam satu dekade ke depan, apabila tren penurunan pendaftaran mahasiswa terus berlanjut.
Mengingat sekitar setengah dari total populasi Kore Selatan yang berjumlah mencapai 52 juta jiwa telah terkonsentrasi di wilayah metropolitan ibu kota, maka sejumlah kampus yang ada di luar Ibu Kota Seoul diperkirakan akan terkena dampak paling parah.
Tekanan terhadap universitas yang ada di Korea Selatan datang dari berbagai sisi, salah satunya adalah kebijakan pembatasan maksimal hingga 1,2 kali rata-rata inflasi tiga tahun bagi kenaikan biaya kuliah.
Hal ini dinilai membatasi ruang gerak perguruan tinggi untuk dapat meningkatkan pendapatan di tengah turunnya jumlah mahasiswa.
Sementara, Korea Selatan menjadi salah satu dari negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia yang mencerminkan krisis demografi yang lebih luas. (*)











Komentar