SMJTimes.com – Perjanjian pengurangan senjata nuklir antara Amerika Serikat (AS) dengan Rusia yang dikenal dengan New START secara resmi telah berakhir pada Rabu (04/02/2026) malam waktu Amerika Serikat bagian Timur atau Kamis (05/02/2026) pukul 12.00 WIB.
Melansir dari Detik, perjanjian bilateral terakhir antara AS dengan Rusia yang merupakan singkatan dari Strategic Arms Reduction Treaty ini telah ditandatangani sejak 2010 oleh Barack Obama dan Dmitry Medvedev.
Sebelumnya, perjanjian pertama yang serupa masih dapat ditelusuri melalui kesepakatan Strategic Arms Limitation Talks (SALT I) yang ditandatangani pada 1972. Kemudian, New START menjadi satu-satunya sisa kesepakatan pengurangan senjata nuklir yang masih diberlakukan di antara kedua negara tersebut.
Diketahui, sejumlah pembatasan yang diatur dalam New START, di antaranya adalah jumlah hulu ledak nuklir strategis aktif hanya sebanyak 1.550 per negara dan jumlah kendaraan dan sistem peluncur strategis seperti pesawat pembom berat, ICBM, SLBM yaitu 800 unit.
Kemudian, sejumlah pembatasan lainnya yang juga diatur dalam New START seperti pengaturan inspeksi bersama yang dilakukan guna memastikan kepatuhan di antara kedua belah pihak.
Kini ketika perjanjian tersebut secara resmi telah berakhir, dua kekuatan nuklir terbesar di dunia tidak lagi terikat pada batas maupun jumlah persenjataan nuklir strategis yang dimiliki. Artinya, penutupan perjanjian ini telah membuka era ketidakpastian yang baru.
“Ini sangat buruk bagi keamanan global,” jelas juru bicara Kremlin Dmitry Peskov dalam konferensi pers, dikutip Jumat (06/02/2026).
Kekhawatiran tersebut berdasar pada tanpa adanya intervensi, dunia berpotensi menghadapi perlombaan senjata nuklir baru yang akan menjadi tidak terkendali. (*)










Komentar