SMJTimes.com – Sejak kesepakatan pasokan yang dibuat oleh Washington dan Caracas senilai 2 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara dengan Rp33,6 triliun, kilang minyak mulai kelabakan menyerap lonjakan minyak mentah dari Venezuela.
Melansir dari CNN Indonesia, lonjakan ekspor minyak yang ada di kawasan Pantai Teluk (Gulf Coast) AS dari Venezuela yang terjadi pada bulan lalu ini telah menekan harga hingga membuat sebagian kargo tak terserap oleh pasar.
Meski sudah turun, sejumlah perusahaan pemilik kilang minyak di AS mengeluhkan harga minyak berat Venezuela yang masih tergolong mahal dibandingkan dengan minyak berat dari Kanada.
Diketahui, minyak berat Venezuela yang diekspor ke Gulf Coast AS saat ini ditawarkan dengan diskon sekitar 9,50 dolar AS per barel dari harga acuan Brent. Angka tersebut melonjak tajam dari harga sebelumnya di pertengahan Januari lalu yang hanya mencapai 7,50 dolar AS per barel.
Sejak pertengahan 2025, nilai ekspornya mencapai angka nol usai Presiden AS, Donald Trump mencabut seluruh izin perdagangan dan pengapalan Caracas. Kini, ekspor minyak Venezuela ke AS per Januari 2026 melesat menjadi 284 ribu barel per hari.
Padahal sebelum adanya pemberlakuan sanksi Washington ke Caracas pada 2019, AS telah menyerap sekitar 500 ribu barel per hari minyak Venezuela.
Untuk itu, para pelaku pasar menyebut perlu adanya waktu untuk kembali mencapai kapasitas maksimum kilang AS. Bahkan, sebagian fasilitas kilang juga perlu penyesuaian teknis guna mengolah minyak Venezuela yang lebih berat. (*)







Komentar