SMJTimes.com – Di tengah tekanan berat akibat kelebihan pasokan dan anjloknya harga yang dialami oleh industri daging babi terbesar di dunia, Cina mulai mengalami pergeseran selera konsumen yang terlihat dari peralihan babi hitam lokal yang dinilai lebih berkualitas dan premium, dari daging babi putih impor.
Salah satu pedagang telur kepiting yang bernama Gao Xianghua, menjelaskan gambaran terkait perubahan tersebut, dengan pembelian iga, kaki hingga sosis babi hitam senilai 1.000 yuan atau setara dengan Rp2,2 juta, menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.
“Saya ingin anak-anak saya makan daging babi berkualitas yang biasa saya nikmati saat kecil, bukan daging babi murah yang diproduksi cepat,” jelas Gao saat ditemui di toko daging di lingkungannya, dikutip dari Reuters, Rabu (04/02/2026).
Menurut CNBC Indonesia, babi hitam bukan sekadar makanan, melainkan nostalgia masa kecil dalam pemeliharaan hewan tersebut di rumah konsumen kelas menengah yang berusia lanjut di Cina. Dalam pandangan mereka, daging tersebut disembelih untuk acara keluarga besar menjelang Imlek.
Kemudian, daging babi hitam juga kerap dipasarkan sebagai “Wagyu-nya daging babi”, lantaran teksturnya yang lebih berlemak dan empuk. Oleh sebab itu, harga daging babi hitam bisa mencapai empat kali lipat lebih mahal daripada daging babi putih hasil persilangan Barat yang tumbuh cepat.
Namun, lonjakan permintaan ini justru dijadikan sebagai titik terang sejumlah produsen yang sedang terhimpit oleh krisis lantaran selama bertahun-tahun, industri babi Cina selalu terpukul dari lemahnya permintaan, perlambatan ekonomi, serta kelebihan kapasitas produksi pasca wabah demam babi yang ada di Afrika.
Di tengah tekanan pada Desember lalu yang mencatatkan penurunan pendapatan industri daging babi sebesar 14,6% secara tahunan, babi hitam dianggap sebagai penyelamat yang juga menarik minat raksasa industri seperti Wen Foodstuff. (*)











Komentar