SMJTimes.com – Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional Afghanistan melaporkan terdapat sedikitnya 61 orang yang tercatat meninggal dunia dan 110 jiwa lainnya mengalami luka-luka akibat adanya gelombang cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan salju tebal.
Selain korban jiwa, ratusan rumah warga hancur dan ribuan hewan ternak juga dilaporkan mati, di tengah upaya otoritas setempat yang masih kesulitan menjangkau sejumlah wilayah terpencil yang terisolasi akibat kerusakan infrastruktur.
Juru bicara Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional, Yousaf Hammad, mengatakan, cuaca buruk tersebut telah berdampak pada 15 dari total 34 provinsi yang ada di Afghanistan dalam tiga hari terakhir, atau dapat bertambah seiring masuknya laporan lanjutan.
“Sebanyak 61 orang telah meninggal dan 110 orang terluka, sementara 458 rumah hancur total atau sebagian, dan ratusan hewan ternak mati,” jela Hammad, dilansir dari CNBC Indonesia, Rabu (28/01/2026).
Sebelumnya, kondisi Afghanistan memang terkenal sangat rentan terhadap kejadian cuaca ekstrem, seperti salju tebal dan hujan deras yang kerap memicu banjir bandang. Bencana kali ini disebut memperparah kondisi yang dalam banyak kasus sebelumnya juga telah menelan ratusan korban jiwa.
Pada 2024 lalu, lebih dari 300 korban jiwa dilaporkan meninggal dunia akibat dari bencana banjir bandang yang terjadi pada sepanjang musim semi.
Dampak tersebut semakin berat lantaran adanya konflik berkepanjangan seperti buruknya infrastruktur, rapuhnya kondisi ekonomi, deforestasi (penggundulan hutan) hingga dampak perubahan iklim yang semakin intens.
Situasi tersebut telah menciptakan banyak komunitas, utamanya yang ada di daerah terpencil menjadi tidak lagi memiliki perlindungan yang layak dari adanya cuaca ekstrem. Akhirnya, banyak rumah warga yang sengaja dibangun dari tanah liat.
Akibatnya, rumah tersebut tercatat sangat rentan mengalami kerusakan ketika diterjang hujan lebat maupun tertimbun salju. (*)




Komentar