SMJTimes.com – PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) kini disebut tengah menjalani transformasi besar-besaran yang tidak hanya membahas terkait armada, melainkan hingga pada penargetan modernisasi secara menyeluruh yang mencakup segala hal.
Melansir dari Detik, Direktur Utama (Dirut) KAI, Bobby Rasyidin menyebut, bahwa pembaruan menyangkut mulai dari material kereta api, digitalisasi proses bisnis, hingga pengatasan pada tantangan alam yang semakin kompleks.
Dalam penjelasan yang dilakukan sebelum proses Lokomotif D301 dan BB306 Vintage Livery, Bobby menyoroti pengelolaan jaringan kereta api di Indonesia yang telah menghadirkan sejumlah tantangan unik yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan sektor transportasi lainnya.
Salah satu perbedaan utama yang dijelaskan oleh Bobby adalah perbandingan antara sektor penerbangan dan kereta api. Jika maskapai, pengatur lalu lintas udara, dan operator bandara beroperasi sebagai entitas terpisah, KAI berhasil mencakup ketiganya dalam satu naungan sekaligus.
“Kita bicara airlines. Airlines-nya siapa? Garuda, bener nggak? Air Traffic Control-nya siapa? AirNav. Operator dari airport-nya siapa? Angkasa Pura. Coba kita bandingkan dengan KAI, siapa yang jalanin keretanya? KAI, siapa yang ngatur relnya? KAI, siapa yang ngurusin stasiunnya? KAI. Three in one, ya,” jelas Bobby.
Selain itu, kondisi yang berbeda juga terlihat dari lonjakan permintaan (demand) yang dalam hukum ekonomi umum, hal tersebut baru akan mulai memunculkan pasokan (supply). Namun pada KAI, demand terus mengalami peningkatan tanpa menunggu pasokan tersedia.
“Demand baru ada supply, bener nggak? Ya kan? Misalnya, wah pabrik sepatu baru ada ketika demand sepatunya ada, begitu kan? Kalau yang Bapak pimpin sekarang di KAI ini, kebalik! Berapa pun supply kita taruh, demand ini naik. Kenapa demand-nya naik? Karena terpaksa (masyarakat butuh transportasi massal),” ucapnya. (*)











Komentar