Purbaya Bandingkan Kondisi Krisis 1998 dengan Penyelamatan Ekonomi dengan Meningkatkan Utang

Bagikan ke :

SMJTimes.com – Di tengah tantangan ekonomi global di awal tahun 2026, Menteri Keuangan Republik Indonesia (Menkeu RI), Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan tegas terkait arah kebijakan fiskal pemerintah demi menjaga stabilitas nasional.

Menurutnya, perlambatan ekonomi yang terjadi beberapa waktu terakhir memaksa pemerintah RI untuk memilih strategi yang paling minim risiko bagi rakyat. Meski begitu, ia membandingkan secara tajam terkait kondisi saat ini dengan memori kelam krisis finansial yang pernah terjadi di masa lalu.

“Ini kan kemarin terpaksa karena ada perlambatan signifikan. Pilihannya yang mana? Ke kondisi seperti 1998 atau meningkatkan utang sedikit, tetapi ekonomi kita selamat habis itu kita tata ulang semuanya,” jelas Purbaya, dikutip dari Liputan6, Rabu (18/02/2026).

Menurutnya, meningkatkan jumlah utang secara terukur sebagai stimulus lebih dapat memastikan roda ekonomi tetap berputar, daripada kembali di era kondisi 1998 yang berada di jurang krisis sistemik.

Hal tersebut menjadi prioritas utama sebelum pemerintah melakukan konsolidasi maupun penyehatan kembali bagi anggaran negara. Nantinya, pihaknya menjamin bahwa langkah ekspansi fiskal ini akan segera diikuti dengan efisiensi di berbagai lini lainnya.

Sementara, strategi tata ulang yang dimaksudkan Purbaya adalah mencakup komitmen guna menyehatkan kembali Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), melalui optimalisasi pendapatan negara setelah kondisi ekonomi dinyatakan benar-benar stabil.

Untuk itu, pihaknya berpesan agar sektor jasa keuangan tetap optimis dalam penyaluran likuiditas, dengan harapan dapat memberikan ruang bagi dunia usaha untuk tetap ekspansif, sehingga pemulihan ekonomi dapat lebih cepat berjalan tanpa harus mengorbankan kesejahteraan masyarakat luas. (*)

Komentar