Iran Tawarkan RI Adopsi Drone untuk Non Militer, Dubes Minta Tidak Takut Ancaman Tarif Trump

Bagikan ke :

SMJTimes.com – Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi ajukan penawaran kepada Republik Indonesia (RI) terkait pengadopsian teknologi baru milik Iran yang juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan non militer, bernama pesawan nirawak alias drone.

“Ketika kita berbicara tentang drone, biasanya kita berpikir bahwa penggunaannya hanya untuk satu hal, tetapi sebenarnya tidak. Anda tahu bahwa ada banyak sekali cara damai untuk menggunakan drone di bidang pertanian dan sektor ekonomi lainnya,” jelas Boroujerdi, dikutip dari Republika.

Selain itu, Boroujerdi juga meminta kepada pihak badan maupun lembaga di RI untuk tidak khawatir terhadap ancaman tarif yang dipatok oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, atas imbas dari kerjasamanya dengan Iran.

“Kami sampaikan kepada Indonesia untuk tidak takut. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Perusahaan mana pun dan negara mana pun yang memiliki hubungan reguler dengan Iran, mereka akan mendapatkan banyak keuntungan,” ucapnya, dikutip Rabu (18/02/2026).

Karena pada Januari awal 2026 ini, Trump mengumumkan adanya pemberlakuan tarif sebesar 25 persen terhadap seluruh negara yang masih melakukan transaksi perdagangan dengan Iran.

Dalam hal ini, total terdapat lebih dari 100 negara yang memiliki hubungan ekonomi dengan Iran. Namun menurut Boroujerdi, sejumlah negara tersebut tidak tercatat mengalami kendala yang sebelumnya telah dikatakan oleh Trump itu.

“Semua negara merdeka percaya bahwa Amerika Serikat bukanlah raja dunia. Mereka tidak dapat mendikte aturan mereka kepada negara-negara merdeka seperti Indonesia,” katanya.

Oleh sebab itu, pihaknya juga memercayai bahwa negara Merdeka seperti Indonesia dan Iran haruslah melanjutkan kerja sama ekonominya secara teratur, agar situasinya tidak menjadi jauh lebih buruk.

“Jadi, jika mereka ingin melewati era sulit ini, mereka harus memperluas kerja sama antara kedua negara, baik secara bilateral dan multilateral, dan menunjukkan kepada AS bahwa mereka tidak dapat mendikte aturan mereka kepada seluruh dunia,” ucapnya. (*)

Komentar